Di Balik Ancaman Kepunahan, Ilmuwan Temukan 166.000 Km2 Terumbu Karang yang Mampu Bertahan dari Krisis Iklim
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengidentifikasi area terumbu karang yang resilien terhadap perubahan iklim seluas 166.000 km2, tiga kali lipat dari perkiraan sebelumnya.
- Temuan ini memberikan peta jalan bagi negara-negara, termasuk Indonesia, untuk memprioritaskan perlindungan terumbu karang yang masih memiliki harapan hidup.
- Hanya 28% dari terumbu karang yang teridentifikasi saat ini berada dalam kawasan lindung, mendesak aksi konkret sebelum fenomena El Nino super melanda.
Di tengah kekhawatiran akan kerusakan ekosistem laut yang tak terhindarkan, para ilmuwan justru menemukan secercah harapan: hampir 166.000 kilometer persegi terumbu karang di seluruh dunia ternyata masih mampu bertahan dan pulih dari dampak perubahan iklimโangka yang tiga kali lebih besar dari estimasi sebelumnya. Temuan ini, yang dipublikasikan Selasa lalu, mengubah narasi pesimistis tentang masa depan terumbu karang dan memberikan dasar ilmiah bagi upaya konservasi global.
Penelitian yang menganalisis 45.000 survei terumbu karang dan data iklim selama puluhan tahun ini berhasil memetakan titik-titik terumbu karang yang resilien di 71 negara dan 100 wilayah, termasuk di kawasan Karibia, Samudra Pasifik, dan Atlantik yang sebelumnya tidak teridentifikasi. Emily Darling, direktur konservasi karang di Wildlife Conservation Society (WCS) dan salah satu penulis laporan, menegaskan bahwa temuan ini membalikkan anggapan bahwa terumbu karang sudah tidak bisa diselamatkan. โKami tahu di mana letak harapan itu, dan yang dibutuhkan sekarang adalah kemauan politik,โ ujarnya.
Terumbu karang, yang menopang seperempat kehidupan laut dunia, memang berada dalam tekanan berat akibat badai tropis, polusi, dan pemutihan massal yang dipicu oleh kenaikan suhu laut. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua terumbu karang bernasib sama. Beberapa di antaranya memiliki ketahanan alami yang lebih tinggi, baik karena faktor lokasi, arus laut, maupun adaptasi biologis. Data ini menjadi krusial di tengah target global โ30 by 30โ, yaitu upaya melindungi 30% wilayah darat dan laut pada 2030.
Bagi Indonesia, yang memiliki segitiga terumbu karang terkaya di dunia, temuan ini memiliki implikasi langsung. Sebagian besar terumbu karang di Indonesia, termasuk di Bali dan Raja Ampat, masuk dalam kategori yang teridentifikasi. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan data ini ke dalam kebijakan tata ruang laut dan alokasi dana konservasi yang terbatas. Stacy Jupiter, direktur eksekutif Program Laut Global WCS, menekankan bahwa data ini memungkinkan pemerintah untuk melakukan triase: memprioritaskan area yang masih memiliki fungsi ekosistem baik, sementara area yang sudah terdegradasi parah mungkin harus ditinggalkan. โDalam kasus tertentu, di mana terumbu karang berada di bawah ambang batas fungsi ekosistem, kita mungkin perlu meninggalkan tempat-tempat itu,โ katanya.
Urgensi aksi semakin terasa dengan datangnya fenomena El Nino super yang diprediksi akan memperparah pemutihan karang. Darling mengingatkan bahwa hanya 28% terumbu karang yang resilien saat ini berada dalam kawasan lindung, sehingga masih ada peluang besar untuk memperluas perlindungan. Pertanyaan kuncinya: apakah negara-negara, terutama yang memiliki wilayah laut luas seperti Indonesia, mampu bergerak cepat sebelum gelombang panas laut berikutnya menghantam? Atau, akankah data ini hanya menjadi dokumen ilmiah lain yang tidak pernah terimplementasi?



