G7 di Evian-les-Bains: Jepang Dorong Cadangan Mineral Strategis, AS-Iran Mulai Damai
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengusulkan kemitraan cadangan mineral kritis di sela KTT G7, menyikapi dominasi China atas pasokan rare earth.
- Kesepakatan sementara AS-Iran untuk mengakhiri perang menjadi agenda utama, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan Jumat pekan ini.
- KTT kali ini diperkirakan tidak menghasilkan komunike bersama karena perbedaan sikap AS dan Eropa soal Iran dan Ukraina, digantikan pernyataan sektoral.

KTT G7 yang berlangsung di Evian-les-Bains, Prancis, sejak Senin (16/6) langsung diwarnai usulan strategis dari Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi: pembentukan kemitraan cadangan bersama mineral kritis. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan negara-negara maju terhadap China, yang selama ini mendominasi pasokan rare earth dan bahan baku penting bagi industri teknologi tinggi.
Dalam jamuan kerja malam pertama, Takaichi yang baru pertama kali menghadiri KTT G7 sejak menjabat Oktober lalu, menyambut baik kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Presiden Donald Trump pada Minggu (15/6). Ia menyebutnya sebagai “langkah signifikan menuju de-eskalasi” dan mendesak agar perjanjian final segera dicapai untuk menjamin implementasi, keamanan navigasi di Selat Hormuz, serta mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Kesepakatan AS-Iran tersebut mengakhiri perang yang berlangsung berbulan-bulan, dipicu serangan militer AS terhadap Iran pada akhir Februari. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan pada Jumat di Jenewa. KTT G7 ini menjadi pertemuan tatap muka pertama para pemimpin negara industri sejak konflik Timur Tengah pecah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, selaku tuan rumah, mengatakan para pemimpin akan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz dalam jangka panjang. Selat tersebut merupakan jalur pelayaran vital yang selama konflik terganggu. Namun, KTT ini juga menjadi ujian apakah G7 dapat menunjukkan sikap bersatu di tengah perbedaan pandangan antara AS dan sekutu Eropa, terutama terkait perang Iran dan konflik Ukraina. Trump diketahui frustrasi dengan kritik Eropa atas aksi militernya, sementara Eropa mendorong dukungan kuat untuk Kyiv yang tidak sepenuhnya direspons AS.
Untuk menghindari sorotan terhadap perpecahan, para pemimpin diperkirakan tidak akan mengeluarkan komunike bersama—untuk kedua kalinya secara berturut-turut. Sebagai gantinya, mereka menyusun pernyataan terpisah di bidang-bidang yang potensial mencapai konsensus, seperti rantai pasok mineral kritis dan ketidakseimbangan ekonomi global.
Bagi Indonesia, isu rantai pasok mineral kritis memiliki relevansi langsung. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia dan produsen utama kobalt, Indonesia berpotensi menjadi pemasok alternatif bagi negara-negara G7 yang ingin diversifikasi dari China. Inisiatif Jepang ini bisa membuka peluang kerja sama baru, terutama dalam pengembangan industri hilir dan pembentukan rantai pasok yang lebih tahan guncangan. Namun, Indonesia juga perlu mencermati standar lingkungan dan tata kelola yang mungkin diminta mitra G7.
Selain isu mineral, Takaichi juga menyerukan denuklirisasi penuh Korea Utara dan berterima kasih atas dukungan G7 terhadap penyelesaian kasus warga Jepang yang diculik Pyongyang pada 1970-1980-an. Ia memaparkan pandangan Jepang mengenai keamanan Indo-Pasifik dan tantangan terkait China, dan para pemimpin G7 sepakat untuk berkoordinasi erat dalam isu-isu tersebut.
KTT ini juga mengundang pemimpin non-G7 seperti Brasil, India, Kenya, Korea Selatan, dan Mesir dalam sesi tertentu. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bergabung pada Selasa untuk membahas perang dengan Rusia, sementara pemimpin Timur Tengah akan membahas keamanan regional termasuk Selat Hormuz. Eksekutif perusahaan AI seperti Anthropic dan OpenAI juga dijadwalkan hadir pada Rabu untuk diskusi tentang pengembangan AI dan keamanan anak daring.
Di luar ruang pertemuan, puluhan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan di Jenewa pada Minggu. Sebagian besar aksi berlangsung damai, namun terjadi bentrokan dengan polisi, pelemparan batu, dan pembakaran kendaraan, yang direspons dengan gas air mata. Otoritas Swiss dan Prancis mengerahkan sekitar 4.000 personel keamanan di sekitar Evian-les-Bains yang berada di tepi Danau Jenewa. G7, yang mewakili negara-negara terkaya dunia, kerap menjadi sasaran protes anti-globalisasi dan anti-kapitalis.
Ke depan, hasil konkret KTT ini akan diukur dari sejauh mana kesepakatan sektoral mampu menjembatani perbedaan yang ada, terutama dalam menjaga stabilitas Timur Tengah dan memperkuat ketahanan ekonomi. Tanpa komunike bersama, G7 menghadapi risiko semakin tergerusnya kredibilitas sebagai forum pengambilan keputusan kolektif. Pertanyaannya, apakah langkah parsial ini cukup untuk mengatasi tantangan global yang saling terkait?



