Semaglutide Tak Hanya Turunkan Berat Badan, Studi Ungkap Manfaat untuk Kesehatan Tulang
Baca dalam 60 detik
- Pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan semaglutide mengalami penurunan risiko patah tulang hingga 15% dibandingkan obat penurun berat badan lain.
- Temuan ini masih bersifat awal dan perlu dikonfirmasi melalui studi prospektif, namun membuka peluang baru dalam penanganan osteoporosis pada pasien diabetes.
- Di Indonesia, dengan prevalensi diabetes dan osteoporosis yang tinggi, hasil riset ini bisa menjadi pertimbangan bagi dokter dalam memilih terapi.

Semaglutide, obat yang populer untuk menurunkan berat badan dan mengelola diabetes tipe 2, ternyata juga berpotensi melindungi tulang. Sebuah studi yang dipresentasikan dalam pertemuan Endocrine Society ENDO 2026 menemukan bahwa pasien diabetes tipe 2 yang menggunakan semaglutide memiliki risiko patah tulang 15% lebih rendah dibandingkan mereka yang menggunakan obat penurun berat badan lainnya, meskipun penurunan berat badannya lebih besar.
Penelitian yang belum melalui proses peer-review ini melibatkan lebih dari 35.000 pasien diabetes tipe 2 di Amerika Serikat. Data diambil dari catatan kesehatan elektronik Atropos Health Eos. Kelompok yang mendapat semaglutide hanya mengalami 794 kasus patah tulang selama rata-rata 3,5 tahun, sementara kelompok kontrol yang menggunakan kombinasi phentermine-topiramate, bupropion-naltrexone, atau dulaglutide mencatat 1.045 kasus. Penurunan indeks massa tubuh (BMI) juga lebih signifikan pada kelompok semaglutide.
Penulis studi, Sun H Kim dari Stanford, menjelaskan bahwa temuan ini mengejutkan karena penurunan berat badan biasanya justru meningkatkan risiko patah tulang akibat percepatan pengeroposan tulang. "Kami menemukan bahwa semaglutide mengurangi risiko patah tulang meskipun dikaitkan dengan penurunan berat badan yang lebih besar," ujarnya. Namun, para ahli mengingatkan bahwa hasil ini masih bersifat awal dan belum bisa dijadikan pedoman klinis.
Burak Altintas, dokter ortopedi dari UTMB yang tidak terlibat dalam studi, menyoroti sejumlah keterbatasan. Desain retrospektif dan kemungkinan adanya faktor perancu yang tidak terukur menjadi kelemahan utama. Selain itu, kelompok kontrol yang heterogen—mencakup obat dengan mekanisme kerja berbeda—serta data BMI yang tidak lengkap pada sebagian besar partisipan membuat interpretasi hasil perlu hati-hati. "Temuan ini sebaiknya dilihat sebagai hipotesis yang perlu diuji, bukan sebagai perubahan praktik," tegas Altintas.
Mir Ali, spesialis bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center, menambahkan bahwa studi ini memang menunjukkan manfaat semaglutide, tetapi sulit untuk memisahkan efek perlindungan tulang dari efek penurunan berat badan. "Kami sering melihat hasil serupa ketika pasien mencapai berat badan sehat melalui cara lain, seperti operasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah efek ini independen dari penurunan berat badan," katanya.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi tersendiri. Prevalensi diabetes tipe 2 terus meningkat, dan banyak pasien juga berisiko mengalami osteoporosis, terutama pada usia lanjut. Jika studi lebih lanjut mengonfirmasi efek protektif semaglutide terhadap tulang, obat ini bisa menjadi pilihan utama bagi pasien diabetes yang juga rentan terhadap patah tulang. Namun, akses dan biaya terapi masih menjadi kendala di Indonesia, sehingga diperlukan kajian lebih mendalam tentang efektivitas biaya.
Ke depan, para peneliti berencana melakukan studi prospektif acak yang mengukur kepadatan mineral tulang dan penanda pergantian tulang secara langsung. Altintas menekankan bahwa jika hasil ini terkonfirmasi, implikasinya akan luas: dokter tidak perlu khawatir bahwa penurunan berat badan akibat semaglutide akan meningkatkan risiko patah tulang; pasien diabetes dengan risiko tinggi patah tulang bisa mendapatkan manfaat ganda; dan pemahaman tentang efek GLP-1 terhadap tulang menjadi semakin penting, terutama pada wanita pascamenopause dan lansia. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah efek perlindungan tulang ini benar-benar berasal dari semaglutide atau sekadar efek samping dari penurunan berat badan yang lebih terkontrol?


