PAS Kembali Tunjuk Hamzah Zainudin sebagai Pemimpin Oposisi Malaysia
Baca dalam 60 detik
- PAS secara resmi mengembalikan posisi Pemimpin Oposisi kepada Hamzah Zainudin setelah konsultasi dengan partai-partai koalisi Perikatan Nasional.
- Keputusan ini mengakhiri masa jabatan Ahmad Samsuri Mokhtar yang sempat ditunjuk menggantikan Hamzah pasca pemecatannya dari Bersatu.
- Langkah ini diiringi rencana perluasan koalisi oposisi melalui Parti Wawasan Negara yang akan bertarung di pemilu Johor dan Negeri Sembilan.

Partai Islam Se-Malaysia (PAS) memutuskan untuk mengembalikan jabatan Pemimpin Oposisi kepada Datuk Seri Hamzah Zainudin, seorang politisi senior yang sebelumnya dicopot dari posisi tersebut setelah dipecat dari partai asalnya, Bersatu. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden PAS, Abdul Hadi Awang, dalam Konvensi Reset di Tanah Merah, Kelantan.
Menurut Abdul Hadi, penunjukan Hamzah tidak didasarkan pada keputusan sepihak PAS, melainkan melalui konsultasi dengan anggota parlemen dari partai-partai yang tergabung dalam koalisi Perikatan Nasional. “Kami tidak hanya mempertimbangkan PAS, tetapi juga pandangan dari anggota parlemen Reset,” ujarnya. Langkah ini menandai perubahan arah politik oposisi Malaysia yang sempat gonjang-ganjing setelah Hamzah kehilangan kursi pimpinan oposisi pada 13 Februari lalu akibat sengketa internal Bersatu.
Sebelumnya, posisi Pemimpin Oposisi telah diberikan kepada Datuk Seri Dr Ahmad Samsuri Mokhtar oleh dewan tertinggi Perikatan. Namun, dengan kembalinya Hamzah, Ahmad Samsuri akan tetap mempertahankan jabatannya sebagai Ketua Perikatan Nasional. Pergeseran ini menunjukkan dinamika kekuasaan di kubu oposisi yang terus beradaptasi menjelang pemilihan negara bagian mendatang.
Dalam pidatonya, Abdul Hadi juga mengisyaratkan adanya realiansi politik yang lebih luas. Ia menyebutkan bahwa sejumlah tokoh politik terkemuka, termasuk mantan anggota dewan eksekutif negara bagian, diperkirakan akan bergabung dengan PAS di Negeri Sembilan. “Kami akan melakukan perubahan – perubahan yang akan menggerakkan mesin partai dan membantu menyelamatkan negara,” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan ambisi oposisi untuk memperluas basis dukungan di luar wilayah tradisional mereka.
Kerja sama dengan Parti Wawasan Negara yang baru dibentuk juga menjadi sorotan. Abdul Hadi menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan memperkuat persatuan di antara partai-partai oposisi dan berbasis Islam, bukan semata-mata untuk meraih kekuasaan. Inisiatif Reset, menurutnya, merupakan upaya untuk memajukan “persatuan ummah” melalui koordinasi yang lebih erat di bawah payung oposisi. Dengan koalisi yang lebih besar, ia optimistis jumlah kursi yang dapat dimenangkan akan meningkat, seraya menekankan bahwa tujuan akhir adalah “menyelamatkan negara, bukan menguasainya”.
Sementara itu, Ahmad Samsuri mengonfirmasi bahwa Parti Wawasan Negara akan bertarung dalam pemilihan negara bagian Johor pada 11 Juli dan Negeri Sembilan pada 1 Agustus mendatang, dengan menggunakan logo Perikatan Nasional. Langkah ini menjadi ujian awal bagi soliditas koalisi oposisi yang baru direstrukturisasi. Pertanyaannya, mampukah strategi ini menggeser dominasi koalisi pemerintah yang dipimpin oleh Pakatan Harapan? Jawabannya akan terlihat dalam waktu dekat, saat pemilih di kedua negara bagian memberikan suara mereka.



