Hamilton Akhiri Puasa Kemenangan Ferrari: Bukti Nyata Sang Juara Belum Habis
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton mempersembahkan kemenangan perdana untuk Ferrari di GP Barcelona, sekaligus memutus dominasi Mercedes di awal musim.
- Kemenangan ini menjadi jawaban atas keraguan terhadap performa Hamilton setelah musim sulit di 2024, di mana ia sempat meragukan kemampuannya sendiri.
- Hasil ini membuka peluang kejuaraan dunia kedelapan bagi Hamilton, meski masih tertinggal 41 poin dari pemuncak klasemen Kimi Antonelli.

Lewis Hamilton akhirnya mempersembahkan kemenangan perdana untuk Ferrari di Grand Prix Barcelona-Catalunya, Minggu (15/6/2025). Hasil ini bukan sekadar mengakhiri puasa kemenangan tim asal Italia sejak Oktober 2024, tetapi juga menjadi deklarasi bahwa pebalap berusia 41 tahun itu masih layak diperhitungkan di panggung tertinggi Formula 1.
Kemenangan ini terasa istimewa karena datang setelah musim 2024 yang penuh penderitaan bagi Hamilton. Ia menyebut musim itu sebagai "mimpi buruk", bahkan sempat menawarkan diri untuk digantikan. Keraguan menggerogoti kepercayaan dirinya, apalagi setelah dikalahkan rekan setim Charles Leclerc dalam hal kecepatan kualifikasi. Namun, Barcelona menjadi titik balik. Hamilton tampil dominan, bahkan tanpa perlu mengandalkan keberuntungan dari virtual safety car yang memudahkan pit stop-nya.
Kunci kebangkitan Hamilton terletak pada perubahan regulasi teknis musim ini. Mobil dengan efek tanah dan suspensi kaku yang menyulitkan Hamilton dalam empat tahun terakhir kini digantikan dengan desain yang lebih konvensional. Toto Wolff, bos Mercedes yang pernah bekerja sama dengan Hamilton selama enam gelar juara, menilai perubahan ini sangat cocok dengan gaya balap Hamilton. Wolff juga menyebut faktor personal, termasuk hubungan Hamilton dengan Kim Kardashian, turut memengaruhi stabilitas emosional pebalap asal Inggris itu.
Di sisi lain, kehadiran Hamilton memberikan efek galvanis bagi Ferrari. Pebalap tujuh kali juara dunia itu dikenal vokal dalam mendorong perubahan, tidak hanya pada mobil tetapi juga budaya tim. Manajer tim Frederic Vasseur mengakui bahwa komitmen Hamilton untuk terus datang ke pabrik setiap Selasa pagi menjadi motivasi besar bagi seluruh anggota tim. "Saya tidak punya jasa apa pun dalam kebangkitan ini. Semua berkat Lewis sendiri," ujar Vasseur.
Meski demikian, tantangan besar masih menanti. Mercedes memenangi enam balapan pertama musim ini berkat keunggulan mesin yang signifikan. Ferrari masih tertinggal dalam hal tenaga, dan sirkuit dengan lintasan lurus panjang akan menjadi ujian berat. Namun, Hamilton optimistis. "Kami punya mobil yang hebat pada intinya. Jika terus menambah performa dan memangkas defisit tenaga, kami bisa bersaing," katanya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Hamilton mengejar ketertinggalan 41 poin dan merebut gelar kedelapan yang telah ia incar sejak kontroversi Abu Dhabi 2021? Dengan momentum yang sedang berpihak, dan dukungan penuh dari Ferrari, skenario itu bukan lagi sekadar mimpi. Namun, seperti diingatkan Wolff, "Jika dia mencium darah, dia akan menyerang. Begitu kereta Lewis Hamilton mulai melaju, sangat sulit menghentikannya."



