Kekacauan F1 di Monako: Penalti Pit-Lane Dibatalkan, Tiga Tim Siap Banding
Baca dalam 60 detik
- Pierre Gasly kembali naik podium setelah banding Alpine mengungkap kesalahan pengukuran batas kecepatan pit-lane di GP Monako.
- Lima pembalap terkena penalti, namun hanya Gasly yang dibatalkan, memicu protes dari Mercedes, McLaren, dan Red Bull.
- Insiden ini membuka celah regulasi: tim bisa memilih tidak menjalani penalti demi banding pasca-balapan.

Keputusan pengawas balapan F1 di Grand Prix Monako yang membatalkan penalti Pierre Gasly memicu gelombang protes dari tiga tim besar—Mercedes, McLaren, dan Red Bull—yang kini bersiap mengajukan banding. Oscar Piastri, pembalap McLaren, mengaku "sangat tercengang" dengan langkah tersebut, yang dinilainya menciptakan preseden berbahaya bagi masa depan olahraga ini.
Gasly, yang awalnya finis ketiga, sempat turun ke posisi ketujuh setelah dihukum karena melampaui batas kecepatan di pit-lane. Namun, Alpine berhasil mengajukan hak peninjauan dan membuktikan bahwa alat pengukur kecepatan di pit-lane mengalami kesalahan kalibrasi. Akibatnya, Gasly dikembalikan ke posisi ketiga, sementara Isack Hadjar (Red Bull) dan Piastri masing-masing turun satu peringkat.
Yang menjadi sorotan, lima pembalap terkena penalti serupa—termasuk George Russell (Mercedes), Lewis Hamilton (Ferrari), dan Franco Colapinto (Alpine)—namun hanya Gasly yang dibatalkan. Russell bahkan menerima penalti drive-through karena dianggap tidak menjalani hukumannya dengan benar, yang membuatnya jatuh dari posisi ketiga ke ke-12 dan kehilangan 15 poin dalam perebutan gelar juara melawan rekan setimnya, Kimi Antonelli.
McLaren menganggap keputusan ini membuka kotak Pandora. "Saya kehilangan satu posisi karena menjalani penalti, jadi secara teknis saya harusnya P3. Tapi secara teknis George juga harusnya P3, dan semuanya kini kacau," ujar Piastri. Ia khawatir tim di masa depan akan memilih untuk tidak menjalani penalti dan langsung mengajukan banding setelah balapan—sebuah celah yang bisa merusak integritas kompetisi.
Boss Mercedes, Toto Wolff, mengaku telah berkonsultasi dengan pengacara. "Drive-through setara kehilangan 20 detik waktu balapan. Kami akan berusaha walau peluangnya tipis," katanya. Sementara itu, Andrea Stella dari McLaren menyebut kasus ini "sangat kompleks" dan timnya mempertimbangkan banding.
FIA dalam pernyataannya mengakui adanya "ketidaksesuaian pengukuran" di pit-lane, namun membantah bahwa prosedur yang dilanggar. Mereka berjanji akan menerapkan perbaikan. Namun, fakta bahwa tim telah melaporkan masalah ini sejak akhir pekan namun diabaikan oleh ofisial menimbulkan pertanyaan serius tentang komunikasi internal FIA.
Insiden ini mengingatkan pada kontroversi Abu Dhabi 2021, di mana kesalahan race director Michael Masi mengubah hasil kejuaraan. Saat itu, protes Mercedes ditolak karena tidak ada dasar regulasi untuk mengubah hasil. Kini, dengan tiga tim yang sama-sama dirugikan, apakah FIA akan mampu mempertahankan kredibilitasnya? Atau akankah keputusan ini menjadi preseden baru yang justru memperlemah otoritas pengawas balapan?



