Serangan Drone Ukraina Tewaskan Satu Orang, Bakar Terminal Laut Rusia di Temryuk
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Ukraina menewaskan seorang warga dan memicu kebakaran di terminal laut Pelabuhan Temryuk, Rusia selatan.
- Kampanye serangan jarak jauh Kyiv terus menarget infrastruktur energi Rusia di tengah kebuntuan negosiasi damai.
- Konflik berkepanjangan meningkatkan ketergantungan kedua pihak pada serangan jarak jauh, sementara perhatian global beralih ke krisis Timur Tengah.

Serangan pesawat nirawak Ukraina menewaskan satu orang dan menyebabkan kebakaran di terminal laut Pelabuhan Temryuk, kawasan Krasnodar, Rusia selatan, Sabtu (14/6/2025). Gubernur setempat Veniamin Kondratiev mengonfirmasi insiden tersebut melalui kanal Telegram resminya, menandai eskalasi terbaru dalam kampanye serangan jarak jauh Kyiv yang terus mengincar infrastruktur energi Rusia.
Pelabuhan Temryuk sebelumnya menjadi sasaran serangan drone Ukraina pada akhir Mei lalu. Kala itu, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengklaim berhasil menghantam terminal gas di lokasi yang sama. Serangan terbaru ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi damai antara Kyiv dan Moskwa, yang praktis mandek sejak awal tahun. Kondratiev tidak merinci kerusakan lebih lanjut atau fasilitas spesifik yang terbakar, namun menegaskan bahwa pihak berwenang tengah melakukan penanganan.
Pada hari yang sama, serangan terpisah di wilayah Volgograd memicu kebakaran di kawasan industri Distrik Kotovo. Gubernur Andrei Bocharov, yang melaporkan insiden tersebut, enggan mengungkapkan detail kerusakan atau fasilitas yang terdampak. Sebelumnya, pada 1 Juni, kilang minyak Volgograd milik Lukoil terpaksa menghentikan operasi pengolahan minyak sejak 29 Mei akibat serangan drone Ukraina, menurut laporan Reuters.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam pernyataan Rabu lalu, mengklaim bahwa pasukannya telah menghantam sejumlah instalasi militer dan energi di dalam wilayah Rusia, termasuk pabrik militer di Cheboksary, Chuvashiya, yang memasok komponen untuk drone dan rudal Rusia. Serangan itu menggunakan rudal jarak jauh FP-5 Flamingo buatan Ukraina, yang mampu menjangkau target lebih dari 900 kilometer dari garis depan. Meski demikian, Zelenskyy dijadwalkan tidak akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden AS Donald Trump dalam KTT G7 di Prancis, menurut pejabat senior AS.
Perhatian global terhadap konflik Ukraina mulai memudar seiring memanasnya perang AS-Israel melawan Iran dan gangguan energi global yang ditimbulkannya. Trump, yang saat kampanye 2024 berjanji akan segera mengakhiri perang di Eropa, kini lebih banyak tersita perhatiannya oleh krisis Timur Tengah. Sementara itu, garis depan sepanjang lebih dari 1.000 kilometer di Ukraina nyaris tidak bergerak selama lebih dari empat tahun, dengan kawanan drone menghalangi kemajuan signifikan. Akibatnya, kedua pihak semakin mengandalkan serangan jarak jauh untuk melumpuhkan lawan.
Pekan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin berjanji memperkuat pertahanan udara setelah serangan Ukraina membakar terminal minyak di St. Petersburg dan menghantam pangkalan angkatan laut di dekatnya, mencoreng forum ekonomi bergengsi di kampung halamannya. Di sisi lain, serangan balasan Rusia di wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina, melukai sembilan orang dan membakar pasar setempat. Kepala daerah Oleksandr Hanzha melaporkan bahwa Rusia menyerang tiga distrik lebih dari 20 kali menggunakan drone dan bom udara, dengan enam korban dirawat di rumah sakit, termasuk satu orang dalam kondisi kritis.
Serangan beruntun ini menunjukkan bahwa perang Ukraina-Rusia masih jauh dari kata usai, meskipun perhatian dunia mulai teralihkan. Dengan negosiasi damai yang mandek dan kedua pihak terus mengembangkan kemampuan serangan jarak jauh, konflik diprediksi akan terus berlanjut dengan intensitas tinggi. Pertanyaan besarnya, akankah tekanan internasional atau perubahan dinamika geopolitik mampu mendorong kedua belah pihak kembali ke meja perundingan?



