Myanmar dan China Perkuat Kerja Sama Strategis: Dari Perbatasan hingga Energi Terbarukan
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Myanmar dan China sepakat membuka kembali gerbang perdagangan perbatasan serta memperkuat sistem manajemen perdagangan lintas batas.
- China berkomitmen mendukung rekonstruksi pasca-gempa Mandalay dan percepatan Koridor Ekonomi Myanmar-China.
- Kerja sama energi terbarukan dan bantuan teknis untuk produk pertanian Myanmar menjadi agenda utama pertemuan bilateral.

Pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing, dan Perdana Menteri China, Li Qiang, menggelar pertemuan bilateral di Beijing pada 16 Juni lalu, membahas perluasan kerja sama di berbagai sektor strategis. Pertemuan yang berlangsung di Balai Agung Rakyat itu menjadi sinyal penguatan hubungan kedua negara di tengah dinamika geopolitik kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menyepakati langkah konkret untuk membuka kembali gerbang perdagangan perbatasan yang sempat terhambat akibat pandemi dan konflik internal. Manajemen sistematis perdagangan lintas batas berdasarkan aturan hukum juga menjadi fokus, termasuk implementasi bersama fasilitasi perdagangan lintas batas. Langkah ini dinilai penting untuk memulihkan arus barang dan jasa antara kedua negara yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi perbatasan.
Selain perdagangan, China menyatakan kesiapannya meningkatkan dukungan teknis untuk standar karantina produk pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Myanmar. Bantuan ini diharapkan dapat membuka akses lebih luas produk Myanmar ke pasar China. Di sisi lain, kerja sama penegakan hukum lintas batas juga dipercepat, menyusul meningkatnya kekhawatiran akan kejahatan transnasional di kawasan perbatasan.
Isu energi juga menjadi sorotan. Myanmar yang tengah menghadapi krisis listrik kronis mendapat tawaran kerja sama pengembangan sistem energi stabil dan teknologi energi terbarukan dari China. Bantuan ini mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin, serta perbaikan infrastruktur transmisi. Bagi China, langkah ini sekaligus memperkuat pengaruhnya di sektor energi Myanmar yang selama ini didominasi oleh proyek-proyek berbasis bahan bakar fosil.
Dalam konteks regional, penguatan hubungan Myanmar-China memiliki implikasi bagi Indonesia. Sebagai sesama anggota ASEAN, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas di Myanmar, terutama pasca-kudeta militer 2021. Kerja sama ekonomi yang erat antara Naypyidaw dan Beijing dapat mempengaruhi dinamika perdagangan dan investasi di kawasan, termasuk potensi alih daya produksi dari China ke Myanmar yang bersaing dengan Indonesia. Di sisi lain, proyek Koridor Ekonomi Myanmar-China yang membentang dari Yunnan ke pelabuhan Kyaukphyu di Samudra Hindia berpotensi mengubah rute logistik regional, yang perlu diantisipasi oleh pelaku bisnis Indonesia.
Pertemuan itu juga menegaskan komitmen China untuk terus mendukung rekonstruksi dan rehabilitasi pasca-gempa dahsyat di Mandalay yang terjadi pada Maret lalu. Bantuan tersebut mencakup pendanaan dan teknis untuk membangun kembali infrastruktur publik serta perumahan. Sementara itu, percepatan implementasi Koridor Ekonomi Myanmar-China disebut sebagai proyek penting bagi kedua negara, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan konektivitas.
Ke depan, implementasi kesepakatan ini akan menjadi ujian bagi komitmen kedua negara. Akankah kerja sama ini mampu mendorong stabilitas dan pemulihan ekonomi Myanmar di tengah tekanan internasional? Atau justru semakin memperkuat ketergantungan Myanmar pada China? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus mengemuka seiring berjalannya waktu.



