Program MBG Jadi Katalis: Bisakah Produksi Susu Lokal Tekan Impor?
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Prabowo mengandalkan program Makan Bergizi Gratis untuk mendongkrak konsumsi susu nasional yang masih terendah di ASEAN.
- Permintaan susu tumbuh 6% per tahun, namun produksi peternak lokal tak mampu mengejar, menyebabkan ketergantungan impor.
- Para pemangku kepentingan optimistis MBG bisa memutus lingkaran setan konsumsi rendah-produksi minim jika diiringi edukasi dan pemberdayaan peternak.

Presiden Prabowo Subianto menjadikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ujung tombak perbaikan gizi masyarakat sekaligus alat untuk memutus ketergantungan impor susu yang telah lama membelit Indonesia. Dalam skema besar ketahanan pangan nasional, susu menjadi komoditas kritis karena tingkat konsumsinya masih menjadi yang terendah di kawasan ASEAN.
Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Epi Taufik, menilai rendahnya konsumsi susu di Indonesia bukan semata soal daya beli, melainkan juga minimnya perhatian pemerintah dalam membudayakan minum susu. Menurutnya, MBG dapat menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan tersebut. “Jika program ini berjalan masif, konsumsi susu nasional bisa naik signifikan dan Indonesia tak lagi menjadi juru kunci konsumsi susu di ASEAN,” ujarnya dalam diskusi Squawk Box CNBC Indonesia, Jumat (12/6/2026).
Di sisi lain, pertumbuhan permintaan susu yang mencapai 6% per tahun tidak diimbangi oleh kapasitas produksi peternak lokal. Industri pengolahan susu masih sangat bergantung pada impor bahan baku, terutama susu bubuk dan skim. Kondisi ini menciptakan ironi: di tengah program ambisius untuk meningkatkan gizi, sebagian besar kebutuhan susu justru dipasok dari luar negeri.
Corporate Affair Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew Saputro, menambahkan bahwa konsumsi susu domestik masih stagnan karena rendahnya edukasi tentang manfaat susu. “Budaya minum susu belum tertanam kuat. Banyak masyarakat yang belum menjadikan susu sebagai bagian dari pola makan harian,” jelasnya. Ia berharap MBG tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga menciptakan permintaan yang stabil sehingga peternak lokal terdorong untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.
Para pengamat mencatat bahwa keberhasilan MBG dalam menekan impor susu sangat bergantung pada tiga faktor: konsistensi kebijakan, pendampingan peternak, dan investasi di hulu. Tanpa perbaikan tata kelola peternakan sapi perah—mulai dari pakan, bibit, hingga manajemen—target substitusi impor akan sulit tercapai. Pertanyaan besarnya, apakah pemerintah mampu mengorkestrasi semua elemen ini dalam waktu singkat, atau MBG justru akan memperlebar jurang impor karena lonjakan permintaan yang tak terantisipasi?



