Harga Minyak Menguat Tipis di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata AS-Iran
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent dan WTI naik tipis pada Rabu pagi, setelah dua hari sebelumnya anjlok hingga 5% akibat spekulasi damai AS-Iran.
- Pasar masih skeptis terhadap daya tahan kesepakatan, mengingat Israel tidak terlibat dan ketegangan di Lebanon selatan masih berlanjut.
- Penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan memberi bantalan, namun lesunya permintaan China membatasi potensi kenaikan.

Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Rabu pagi, setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan jual yang dipicu oleh optimisme sementara terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, pergerakan ini masih dibayangi oleh keraguan pasar mengenai keberlanjutan perjanjian tersebut dan prospek pemulihan pasokan dari Selat Hormuz.
Berdasarkan data Refinitif, harga minyak Brent naik menjadi US$79,23 per barel pada pukul 08.20 WIB, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$76,27 per barel. Meskipun menguat, kedua acuan harga tersebut masih jauh dari level tertinggi pekan lalu. Brent tercatat telah kehilangan sekitar 15,9% nilainya sejak 8 Juni, sedangkan WTI terkoreksi hingga 16,5% dalam periode yang sama.
Penurunan tajam tersebut dipicu oleh ekspektasi bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menangani seperlima perdagangan minyak global. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa perjanjian tersebut akan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, sementara seorang pejabat AS menyebut Iran akan diizinkan kembali menjual minyak setelah kesepakatan resmi ditandatangani. Nota kesepahaman ini memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari tambahan untuk merundingkan perdamaian permanen.
Meskipun ada optimisme awal, pasar belum sepenuhnya yakin bahwa risiko geopolitik telah berakhir. Israel secara terbuka mengambil jarak dari kesepakatan AS-Iran, dan serangan pesawat nirawak Israel di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya empat orang menunjukkan bahwa ketegangan kawasan masih tinggi. Hal ini membuat sebagian investor memilih menahan aksi jual lanjutan sambil menunggu implementasi perjanjian di lapangan.
Dari sisi fundamental, data persediaan minyak Amerika Serikat memberikan dukungan tambahan. Laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 8,3 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni, jauh melampaui perkiraan analis yang hanya 4,6 juta barel. Angka ini mengindikasikan pasokan domestik AS yang mengetat, sehingga berpotensi menjadi bantalan bagi harga minyak dalam jangka pendek.
Namun, sentimen permintaan global masih menjadi faktor penghambat. Data terbaru dari China, negara pengimpor minyak terbesar dunia, menunjukkan tingkat pengolahan minyak mentah pada Mei turun 9,1% dibandingkan tahun lalu, mencapai level terendah dalam hampir empat tahun. Perlambatan ini mencerminkan aktivitas kilang yang lesu dan konsumsi energi yang melemah, yang dapat membatasi ruang penguatan harga minyak meskipun ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki implikasi langsung terhadap anggaran subsidi energi dan neraca perdagangan. Pemerintah telah mengalokasikan subsidi BBM dan LPG dalam jumlah besar, dan setiap perubahan harga minyak akan mempengaruhi beban APBN. Jika kesepakatan damai benar-benar terwujud dan harga minyak terus turun, tekanan terhadap subsidi bisa berkurang. Namun, jika ketegangan kembali meningkat, risiko kenaikan harga minyak dapat kembali menguji daya tahan fiskal Indonesia.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran, respons Israel, serta data permintaan dari China dan negara konsumen utama lainnya. Pertanyaan kuncinya: apakah gencatan senjata 60 hari cukup untuk membangun kepercayaan pasar, atau justru menjadi jeda sebelum ketegangan baru muncul?



