IHSG Melompat 1,5% ke 6.352: Gencatan Senjata AS-Iran dan Sinyal The Fed Jadi Katalis
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat 1,07% ke 6.321,96 dan sempat menyentuh 6.352,07, didorong oleh kesepakatan gencatan senjata sementara AS-Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
- Kesepakatan 60 hari antara Washington dan Teheran memicu penurunan harga minyak global, yang menjadi angin segar bagi biaya impor energi Indonesia dan tekanan inflasi.
- Pasar kini menanti hasil rapat FOMC dan RDG Bank Indonesia pekan ini; sikap hawkish The Fed berpotensi menekan rupiah dan IHSG, sementara BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (17/6/2026) dengan lonjakan signifikan, menembus level 6.350 untuk pertama kalinya dalam sepekan terakhir, seiring meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan optimisme menjelang keputusan suku bunga bank sentral global.
Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG dibuka di 6.321,96 atau naik 1,07% dari posisi penutupan sebelumnya 6.254,96. Dalam hitungan menit, indeks saham acuan Tanah Air itu terus meroket hingga 1,5% ke level 6.352,07. Sebanyak 349 saham tercatat menguat, sementara 50 saham melemah dan 273 saham stagnan. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 413,42 miliar dengan volume 331,26 juta saham. Saham-saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI mendominasi perdagangan, bersama TPIA dan BRMS.
Reli IHSG tidak lepas dari kabar positif dari Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara selama 60 hari. Dalam perjanjian tersebut, AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran dan mengizinkan Teheran kembali mengekspor minyak, sementara Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meski Israel tidak dilibatkan langsung dalam perundingan, pasar menyambut baik langkah ini karena berpotensi menurunkan harga minyak dunia. Harga minyak mentah langsung jatuh ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, meredakan kekhawatiran inflasi yang membebani pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Namun, euforia ini dihadapkan pada dua agenda besar yang akan menentukan arah pasar ke depan. Pertama, Federal Open Market Committee (FOMC) AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% pada pengumuman Kamis dini hari WIB. Pasar tidak hanya menanti keputusan suku bunga, melainkan juga nada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh serta proyeksi dot plot terbaru. Sikap hawkish The Fed berpotensi menekan rupiah dan IHSG, sementara sinyal dovish akan menjadi katalis positif bagi aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kedua, Bank Indonesia memulai Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini. Pertemuan dua hari ini akan mengevaluasi kondisi makroekonomi domestik, likuiditas perbankan, inflasi, dan nilai tukar rupiah. Pada 9 Juni lalu, BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% untuk menahan tekanan eksternal terhadap rupiah. Pasar memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga pada level tersebut, namun pernyataan Gubernur Perry Warjiyo akan dicermati untuk mencari petunjuk arah kebijakan ke depan.
Di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa saham justru melemah. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,02%, Nikkei 225 Jepang melemah 0,20%, dan S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,17%. Pengecualian terjadi pada kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong yang menguat tipis. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen positif dari gencatan senjata AS-Iran belum sepenuhnya merata, dan investor masih wait-and-see menjelang keputusan The Fed.
Bagi investor Indonesia, kombinasi antara penurunan harga minyak, kesepakatan geopolitik, dan ekspektasi kebijakan moneter yang akomodatif menjadi bensin bagi reli IHSG. Namun, risiko tetap mengintai jika The Fed memberikan sinyal pengetatan lebih lanjut atau jika ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah masa gencatan senjata 60 hari berakhir. Pertanyaan besarnya: akankah IHSG mampu bertahan di atas level 6.300 hingga akhir pekan, atau justru terkoreksi setelah euforia awal mereda?



