Ribuan Pelayat Iringi Jenazah Putri Raja Thailand: Duka Mendalam di Tengah Ketidakpastian Suksesi
Baca dalam 60 detik
- Putri sulung Raja Thailand, Bajrakitiyabha, meninggal dunia setelah tiga tahun koma akibat infeksi abdomen, memicu gelombang duka nasional.
- Prosesi pemakaman yang khidmat dihadiri ribuan rakyat, namun ketiadaan pengumuman pewaris takhta memicu spekulasi politik di tengah hukum lese-majeste yang ketat.
- Kepergian ini menjadi pukulan kedua bagi keluarga kerajaan dalam waktu singkat, sekaligus mengingatkan kembali pada tradisi monarki yang sangat dihormati di Thailand.

Ribuan warga Thailand berpakaian hitam memadati jalan-jalan Bangkok pada Sabtu (13 Juni) untuk mengiringi prosesi pemindahan jenazah Putri Bajrakitiyabha, putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn, dari rumah sakit menuju Istana Kerajaan. Sang putri, yang dikenal luas sebagai Putri Bha, meninggal dunia pada Kamis (11 Juni) pada usia 47 tahun akibat infeksi abdomen, setelah lebih dari tiga tahun terbaring koma karena gangguan jantung.
Prosesi sepanjang 10 kilometer dari Rumah Sakit Chulalongkorn ke Istana Agung berlangsung di bawah terik matahari, namun ribuan pelayat—sebagian besar berusia lanjut—bertahan berjam-jam untuk memberikan penghormatan terakhir. Banyak di antara mereka terisak saat iring-iringan kerajaan lewat, dipimpin langsung oleh Raja Vajiralongkorn dan Ratu Suthida. Polisi menutup sejumlah ruas jalan di pusat komersial Bangkok, menyebabkan kemacetan parah.
Menurut laporan Thai PBS, jenazah sang putri diangkut menggunakan kendaraan yang sama yang pernah membawa jenazah kakeknya, Raja Bhumibol Adulyadej, yang wafat pada Oktober 2016. Simbolisme ini menambah bobot emosional prosesi, mengingat Raja Bhumibol dianggap sebagai figur pemersatu bangsa selama tujuh dekade masa pemerintahannya.
Mourner Donnapha Kladbupha, seorang guru bahasa Inggris berusia 54 tahun, menyatakan bahwa monarki melambangkan "persatuan" bagi rakyat Thailand di masa sulit. "Mengucapkan selamat tinggal tidaklah mudah bagi kami," ujarnya kepada AFP. Sementara itu, Nitikan Tephakham, 79 tahun, mengaku telah berdoa selama tiga tahun untuk kesembuhan sang putri. "Saya sedih dia pergi, terutama saat melihat foto masa kecilnya," katanya.
Kepergian Putri Bajrakitiyabha menjadi pukulan kedua bagi keluarga kerajaan dalam beberapa bulan terakhir, setelah Ratu Sirikit, ibu suri, wafat pada Oktober 2025 di usia 93 tahun. Sang putri adalah satu-satunya anak dari pernikahan Raja Vajiralongkorn dengan Putri Soamsawali. Ia dikenal sebagai jaksa dan diplomat yang pernah menjabat sebagai duta besar untuk Austria, serta menempuh pendidikan di Inggris, Thailand, dan Amerika Serikat.
Di tengah duka nasional, isu suksesi takhta kembali mengemuka. Raja Vajiralongkorn, yang kini berusia 73 tahun dan memiliki tujuh anak dari empat pernikahan, belum secara resmi menunjuk pewaris. Aturan suksesi kerajaan Thailand lebih mengutamakan ahli waris laki-laki, namun tidak ada kepastian mengenai langkah selanjutnya. Situasi ini diperumit oleh undang-undang lese-majeste yang melarang kritik terhadap keluarga kerajaan dengan ancaman hukuman penjara hingga 15 tahun per pasal.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kuatnya pengaruh monarki di kawasan Asia Tenggara, meskipun sistem pemerintahan berbeda. Thailand dan Indonesia sama-sama menjunjung tinggi nilai tradisi, namun Thailand memiliki institusi kerajaan yang secara konstitusional dijaga ketat. Kepergian putri kerajaan yang populer ini berpotensi memicu perdebatan terselubung mengenai masa depan monarki Thailand, terutama di kalangan generasi muda yang mulai mempertanyakan peran lembaga tersebut.
Pemerintah Thailand belum mengumumkan detail pemakaman, namun telah menginstruksikan pegawai negeri untuk mengenakan pakaian hitam dan mengibarkan bendera setengah tiang selama 15 hari. Upacara keagamaan Buddha digelar tertutup di dalam istana, dengan raja dan ratu duduk di kursi berlapis emas di depan potret sang putri. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah duka nasional ini memperkuat legitimasi monarki, atau justru membuka ruang bagi diskusi tentang suksesi yang selama ini tabu?



