Wakil Ketua DPRD Cirebon Minta Maaf Usai Komentar 'Gembrot' ke Ibu Demo MBG
Baca dalam 60 detik
- Nana Kencanawati, politikus Gerindra, meminta maaf setelah komentarnya yang dianggap body shaming terhadap ibu peserta demo MBG viral.
- Ia mengklaim komentar ditulis oleh tim media yang mengelola akunnya, bukan dirinya secara langsung.
- Akun Instagram Nana diubah menjadi private pasca-polemik, sementara Fraksi Gerindra enggan berkomentar.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Nana Kencanawati, menyampaikan permintaan maaf publik setelah komentar bernada merendahkan yang ia tulis di media sosial memicu gelombang kritik. Dalam unggahan yang viral, politikus dari Fraksi Partai Gerindra itu menuliskan kata 'gembrot' pada video seorang ibu yang berorasi menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan Presiden Prabowo Subianto.
Permohonan maaf disampaikan Nana melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (16/6). Ia mengakui komentar tersebut tidak pantas dan menimbulkan ketersinggungan di masyarakat. "Komentar tersebut tidak tepat, tidak mencerminkan sikap yang seharusnya saya tunjukkan," tulisnya. Nana juga menyebut kejadian ini sebagai pelajaran berharga untuk lebih bijak dalam berkomunikasi di ruang publik.
Polemik bermula dari aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Cirebon di depan Gedung DPRD Kota Cirebon pada Senin (15/6). Dalam video yang beredar, seorang ibu berorasi lantang menolak program MBG. Nana kemudian berkomentar pada unggahan tersebut dengan kalimat: "Lagian siapa yang mau ngasih lo makan ???? Udah GEMBROT !!!!" Komentar itu langsung menuai kecaman karena dianggap sebagai body shaming dan tidak layak diucapkan seorang pejabat publik.
Nana mengklaim bahwa komentar tersebut tidak ditulis oleh dirinya, melainkan oleh anggota tim yang membantu mengelola akun media sosialnya. "Kebetulan saat membuka Instagram, tim media ibu menggunakan akun ibu dan saat itu komentar tersebut ditulis secara spontan," ujarnya. Ia mengaku baru mengetahui kontroversi setelah menerima banyak telepon pada malam hari, dan langsung meminta maaf begitu sadar akan dampaknya.
Kritik tidak hanya datang dari warganet, tetapi juga dari tokoh publik seperti Melanie Subono yang vokal menyuarakan isu sosial. Banyak yang menilai komentar Nana tidak hanya melukai perasaan individu, tetapi juga mencoreng citra lembaga legislatif. Apalagi, Nana berasal dari partai yang sama dengan Presiden Prabowo, membuat insiden ini semakin sensitif secara politik.
Pascapermintaan maaf, akun Instagram Nana diketahui beralih ke mode private. Langkah ini dinilai sebagai upaya menghindari banjir komentar negatif. Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Cirebon, Subhan, memilih bungkam saat dimintai tanggapan oleh awak media.
Insiden ini kembali mengingatkan publik akan pentingnya etika komunikasi bagi pejabat publik, terutama di era media sosial yang serba cepat. Pertanyaan yang mengemuka: akankah partai Gerindra memberikan sanksi atau sekadar menegur kadernya? Atau justru membiarkan kasus ini mereda dengan sendirinya?



