Vietnam Incar Investasi Negara Maju: Targetkan 75% Modal Asing dari Ekonomi Berkembang pada 2030
Baca dalam 60 detik
- Vietnam menargetkan 75% investasi asing berasal dari negara maju pada 2030, dengan fokus pada perusahaan teknologi global.
- Resolusi Partai Komunis Vietnam menetapkan prioritas pada sektor semikonduktor, AI, dan bioteknologi untuk menarik investor kelas dunia.
- Langkah ini berpotensi menggeser peta persaingan investasi di ASEAN, termasuk bagi Indonesia yang juga gencar menarik modal asing.
Vietnam secara resmi meluncurkan strategi ambisius untuk merebut investasi berkualitas tinggi dari negara-negara maju, dengan target porsi modal asing dari ekonomi maju mencapai 75 persen pada 2030. Langkah ini tertuang dalam resolusi terbaru Politbiro Komite Sentral Partai Komunis Vietnam yang dirilis pekan ini, sebagaimana dilaporkan Vietnam News Agency.
Resolusi tersebut menempatkan sektor investasi asing sebagai komponen vital perekonomian nasional. Selain menargetkan dominasi investasi dari negara maju yang unggul dalam teknologi, permodalan, dan manajemen modern, Vietnam juga berambisi menarik setidaknya tiga perusahaan teknologi terkemuka dunia untuk mendirikan kantor pusat, kantor perwakilan, serta pusat riset dan pengembangan di wilayahnya.
Negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa itu juga membidik perusahaan asing yang memiliki teknologi inti dan terspesialisasi, serta mampu terintegrasi secara mendalam ke dalam rantai nilai global. Target jangka pendeknya, pada 2030 Vietnam ingin menjadi salah satu destinasi utama ASEAN untuk proyek investasi asing berkualitas tinggi, didukung oleh perbaikan iklim bisnis, daya saing, kapasitas inovasi, dan layanan publik.
Dalam jangka panjang, hingga 2045, Vietnam menargetkan pengembangan sektor investasi asing yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan baik, mendukung ambisi negara tersebut menjadi pusat manufaktur, jasa, inovasi, dan operasi bisnis yang kompetitif di kawasan. Sektor ini ditargetkan menyumbang sekitar 30 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Langkah Vietnam ini menjadi sinyal kuat bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia. Persaingan menarik investasi asing di ASEAN semakin ketat, terutama di sektor teknologi tinggi. Indonesia sendiri tengah gencar mempromosikan hilirisasi industri dan pengembangan ekosistem digital, namun masih menghadapi tantangan dalam hal kepastian regulasi dan infrastruktur pendukung. Jika Vietnam berhasil merealisasikan targetnya, posisi Indonesia sebagai tujuan investasi utama di kawasan bisa terancam.
Resolusi tersebut secara eksplisit menyebutkan prioritas bidang investasi asing, antara lain elektronik, semikonduktor dan perangkat digital, kecerdasan buatan (AI), big data, komputasi awan, Internet of Things (IoT), blockchain, serta bioteknologi dan biomedis canggih, industri hijau, dan jasa bernilai tambah tinggi lainnya. Fokus ini menunjukkan keseriusan Vietnam dalam membangun ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi.
Pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana Vietnam mampu mengimplementasikan resolusi ini di tengah persaingan global yang semakin sengit. Apakah perbaikan iklim bisnis dan insentif yang ditawarkan cukup untuk meyakinkan raksasa teknologi dunia? Ataukah negara-negara ASEAN lain, termasuk Indonesia, akan merespons dengan kebijakan yang lebih agresif?



