FIFA Digugat Transparansi: Bukti Offside Semi-Automated Tak Kunjung Dirilis
Baca dalam 60 detik
- Keputusan kontroversial offside dalam laga Swiss vs Qatar memicu tuntutan publik terhadap FIFA untuk merilis data animasi semi-automated.
- Teknologi offside semi-automated yang digadang-gadang akurat justru menimbulkan keraguan karena tidak adanya visualisasi untuk keputusan krusial.
- Keterlambatan publikasi bukti offside memicu spekulasi dan kritik dari pakar sepak bola, mempertanyakan komitmen FIFA terhadap transparansi.

FIFA kembali menjadi sorotan setelah keputusan offside kontroversial dalam laga Grup B Piala Dunia antara Swiss dan Qatar tidak kunjung didukung bukti visual dari sistem semi-automated yang diandalkan. Insiden ini memicu pertanyaan serius tentang transparansi badan sepak bola dunia, terutama ketika teknologi canggih yang dipromosikan justru gagal memberikan klarifikasi di momen krusial.
Dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1 di Santa Clara, wasit memberikan penalti untuk Swiss setelah Remo Freuler dijatuhkan kiper Qatar, Mahmoud Abunada. Namun, keraguan muncul apakah Freuler dalam posisi offside saat menerima umpan. Meskipun FIFA sebelumnya memperkenalkan sistem semi-automated offside yang diklaim mampu menciptakan avatar pemain paling akurat, hingga saat ini tidak ada animasi yang dirilis untuk membuktikan keputusan tersebut.
Mantan pemain Manchester United, Gary Neville, yang menjadi komentator untuk ITV, menyuarakan kekesalannya. "Kami semua di sini yakin itu offside. Semua penonton di rumah juga berpikir demikian. FIFA adalah penyiar tuan rumah dan mereka memiliki data semi-automated yang bisa ditunjukkan. Ada pertanyaan besar karena menurut saya itu offside sampai mereka membuktikan sebaliknya," ujarnya.
Kritik Neville tidak berhenti di situ. Ia menyebut situasi ini seperti "kediktatoran" karena FIFA menahan bukti internal dan tidak menunjukkannya kepada penggemar. "Mengapa tidak ada transparansi? Tunjukkan buktinya sekarang juga!" tegasnya.
Keterlambatan publikasi bukti ini kontras dengan praktik di liga domestik yang menggunakan teknologi serupa. Di liga-liga tersebut, jika sistem semi-automated gagal, VAR dapat beralih ke metode manual dengan menggambar garis offside tradisional. Namun, FIFA belum memberikan opsi itu untuk pertandingan ini. BBC Sport telah berupaya meminta klarifikasi dari FIFA, namun belum mendapat respons.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa teknologi canggih sekalipun tidak luput dari kontroversi. Dengan antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia, publik Indonesia kerap mengandalkan tayangan ulang dan analisis untuk memahami keputusan wasit. Ketika bukti tidak disediakan, ruang spekulasi dan ketidakpercayaan semakin lebar. Situasi ini juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penyelenggaraan turnamen global, di mana setiap keputusan dapat berdampak pada perjalanan tim dan emosi jutaan penggemar.
Ke depan, FIFA perlu mengevaluasi kembali protokol publikasi data offside. Jika sistem semi-automated memang andal, tidak ada alasan untuk menunda perilisannya. Pertanyaannya, apakah FIFA akan belajar dari insiden ini dan meningkatkan transparansi, atau justru terus memicu keraguan di mata publik?

