Kebangkitan Exeter: Dari Kekalahan Memalukan ke Final Premiership
Baca dalam 60 detik
- Exeter Chiefs menjadi tim pertama yang lolos ke final Premiership setelah finis di posisi ketiga klasemen.
- Kebangkitan ini terjadi setahun setelah kekalahan terbesar dalam sejarah klub, 79-17 dari Gloucester.
- Pelatih Rob Baxter menyebut transformasi mental pemain sebagai kunci sukses menuju final melawan Northampton.

Exeter Chiefs mencatat sejarah baru di Liga Utama Inggris (Premiership) dengan menjadi tim pertama yang mencapai final setelah finis di peringkat ketiga. Keberhasilan ini diraih setelah mereka membalikkan keadaan dari tertinggal 26-10 menjadi 27-26 atas Bath di semifinal, sekaligus mengakhiri penantian lima tahun untuk tampil di partai puncak.
Prestasi ini menjadi kebangkitan luar biasa bagi klub yang hanya setahun lalu mengalami musim terburuk dalam sejarah. Exeter finis di posisi kesembilan dan menelan kekalahan paling memalukan, 79-17 dari Gloucester. Saat itu, tim yang pernah enam kali berturut-turut tampil di final dan dua kali juara, serta menjuarai Piala Champions Eropa 2020, hanya meraih empat kemenangan sepanjang musim. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di markas mereka, Sandy Park.
Pelatih Rob Baxter, yang telah menukangi Exeter sejak 2009 dan membawa mereka promosi ke kasta tertinggi di musim pertamanya, menyebut transformasi ini sebagai salah satu pencapaian terbesarnya. "Melihat para pemain bertarung habis-habisan di lapangan seperti hari ini, dan beberapa dari mereka adalah pemain yang sama yang kalah 80 poin di Gloucester akhir musim lalu, itu membuat saya sangat bangga," ujarnya kepada BBC Sport. "Pemainnya sama, tetapi mentalitasnya berbeda."
Perjalanan Exeter musim ini memang penuh liku. Di awal musim, mereka bermain imbang 33-33 melawan Northampton setelah tertinggal jauh, sebelum kalah tipis 35-28 di kandang pada Maret lalu. Namun, rangkaian kemenangan impresif melawan Bath dua kali, Leicester tandang, dan Saracens pekan lalu menunjukkan kapasitas mereka untuk bersaing memperebutkan gelar ketiga.
Bagi penggemar rugbi di Indonesia, kisah Exeter menjadi contoh nyata bagaimana kegagalan dapat menjadi fondasi kebangkitan. Di tengah perkembangan rugbi yang masih bertahap di Tanah Air, pelajaran tentang manajemen tekanan dan transformasi mental ini relevan untuk diterapkan, baik di level klub maupun tim nasional. Ketangguhan Exeter dalam bangkit dari keterpurukan bisa menjadi inspirasi bagi atlet dan pelatih Indonesia untuk tidak menyerah pada situasi sulit.
Baxter menekankan pentingnya keseimbangan antara merayakan pencapaian dan tetap fokus. "Mereka perlu menikmati ini, lalu turun dengan cara mereka sendiri, tetapi kemudian meninggalkannya," katanya. Menatap final melawan Northampton, yang belum terkalahkan oleh Exeter musim ini, Baxter percaya pada mentalitas anak asuhnya. "Tugas saya adalah mempersiapkan mereka secara emosional untuk 80 menit lagi. Jika mereka bisa tampil seperti hari ini, itu akan menjadi hari yang luar biasa."
Pertanyaannya, mampukah Exeter mempertahankan momentum dan mengatasi rekor buruk melawan Northampton? Atau justru Saints yang akan memanfaatkan pengalaman mereka mengalahkan Exeter dua kali musim ini? Final akhir pekan depan akan menjadi jawabannya.



