VAR Kontroversial: Kartu Kuning Dibalik untuk Diving, Aturan Baru Piala Dunia Bikin Bingung
Baca dalam 60 detik
- Wasit Danny Makkelie membatalkan kartu kuning Tim Ream dan menghukum Miguel Almiron karena diving, namun keputusan itu dinilai melanggar protokol VAR.
- Aturan 'mistaken identity' sebenarnya hanya berlaku untuk pelanggaran yang sama, bukan mengubah jenis pelanggaran dari tekel menjadi simulasi.
- FIFA diperkirakan akan mengeluarkan klarifikasi untuk mencegah ekspektasi berlebihan terhadap intervensi VAR pada diving.

Wasit asal Belanda, Danny Makkelie, menjadi pusat perhatian setelah keputusannya membalikkan kartu kuning untuk kapten Amerika Serikat, Tim Ream, dan memberikannya kepada penyerang Paraguay, Miguel Almiron, dalam laga Piala Dunia yang berakhir 4-1 untuk tuan rumah. Meskipun sekilas tampak sebagai langkah tepat untuk menghukum diving, keputusan itu justru memicu perdebatan karena dinilai melanggar aturan dan protokol VAR yang berlaku.
Insiden terjadi pada babak kedua saat Antonee Robinson menyundul bola keluar area penalti AS. Makkelie awalnya memberi Ream kartu kuning karena dianggap melanggar Almiron. Namun, setelah ditinjau oleh VAR Carlos del Cerro Grande, wasit Spanyol itu memanggil Makkelie ke monitor pinggir lapangan. Replay menunjukkan Almiron tidak tersentuh, sehingga Makkelie membatalkan kartu untuk Ream dan sebaliknya menghukum Almiron karena simulasi.
Keputusan ini disambut positif oleh banyak pihak, termasuk komentator BBC Danny Murphy yang menilai aturan adaptif semacam itu baik untuk memberantas diving. Namun, sumber terpercaya BBC Sport mengungkapkan bahwa langkah Makkelie sebenarnya keliru secara hukum. Menurut aturan International Football Association Board (Ifab), mekanisme 'mistaken identity' hanya dapat digunakan ketika wasit jelas-jelas menghukum pemain yang salah untuk pelanggaran yang sama. Dalam kasus ini, pelanggaran Ream (tekel) dikoreksi menjadi simulasi oleh Almiron—dua jenis pelanggaran berbeda. Selain itu, VAR melakukan peninjauan setelah wasit dengan sengaja memulai kembali permainan dengan tendangan bebas untuk Paraguay, yang sebenarnya melarang protokol review setelah bola dimainkan.
Mantan bek Inggris Phil Jagielka, meskipun mendukung hukuman bagi diving, mengakui adanya area abu-abu. "Bagaimana jika saya menyentuh Anda sedikit lalu Anda jatuh? Anda tidak bisa membalikkan keputusan karena saya menyentuh Anda, meskipun sentuhan itu tidak membuat Anda roboh. Di mana batasnya?" ujarnya. Jagielka juga menyoroti bahwa aturan baru yang terlalu banyak justru membingungkan wasit.
Kebingungan ini diperparah dengan banyaknya perubahan aturan yang diperkenalkan FIFA dan Ifab untuk Piala Dunia edisi kali ini. Kepala wasit Pierluigi Collina, yang gencar memperkenalkan berbagai pengecekan tambahan—termasuk untuk tendangan sudut, tendangan bebas, dan kartu kuning kedua—justru dinilai menciptakan kekacauan alih-alih keadilan sempurna. Collina sebelumnya memperkenalkan aturan 'mistaken identity' setelah insiden final Euro 2016, di mana Laurent Koscielny dihukum handball padahal handball dilakukan oleh Eder. Namun, kasus AS vs Paraguay berbeda karena melibatkan dua jenis pelanggaran.
Implikasi keputusan ini juga berdampak pada persepsi publik. Jika FIFA tidak segera memberikan klarifikasi, penggemar akan terus berharap VAR campur tangan dalam setiap insiden diving, yang berpotensi memperlambat permainan dan menimbulkan kontroversi baru. Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan infrastruktur sepak bola dan kerap menghadapi masalah diving di liga domestik, kejelasan aturan VAR menjadi pelajaran penting. PSSI dan wasit Indonesia perlu mencermati perkembangan ini agar penerapan VAR di masa depan tidak menimbulkan kebingungan serupa.
Pertanyaan yang tersisa: akankah FIFA mengakui kesalahan Makkelie dan merevisi protokol, atau justru membiarkan keputusan 'yang terasa benar' itu menjadi preseden baru? Jawabannya akan menentukan arah penggunaan VAR di turnamen-turnamen mendatang.

