Tunisia Pecat Sabri Lamouchi Usai Dibantai Swedia 5-1, Herve Renard Ditunjuk sebagai Pelatih Baru
Baca dalam 60 detik
- Federasi Sepak Bola Tunisia mengumumkan pemecatan Sabri Lamouchi setelah kekalahan telak 5-1 dari Swedia di Piala Dunia 2026.
- Herve Renard, yang pernah membawa Arab Saudi mengalahkan Argentina di Piala Dunia 2022, ditunjuk sebagai pelatih kepala hingga akhir turnamen.
- Tunisia kini berada di posisi sulit di Grup F dan akan menghadapi Jepang pada pertandingan berikutnya, dengan peluang lolos yang menipis.
Federasi Sepak Bola Tunisia mengambil langkah drastis dengan memecat pelatih kepala Sabri Lamouchi hanya sehari setelah timnya dihancurkan Swedia dengan skor telak 5-1 dalam laga penyisihan Gruf F Piala Dunia 2026. Sebagai pengganti, federasi menunjuk pelatih asal Prancis, Herve Renard, yang dikenal luas berkat prestasinya membawa Arab Saudi mengalahkan Argentina di Piala Dunia 2022.
Keputusan ini diumumkan langsung oleh Presiden Federasi Sepak Bola Tunisia, Moez Nassari, melalui siaran televisi nasional pada Senin (15/6). Nassari menyatakan bahwa kesepakatan resmi telah dicapai dengan Renard untuk menangani tim nasional hingga akhir Piala Dunia 2026. Renard, yang sebelumnya menangani tim nasional wanita Prancis, diharapkan dapat membawa perubahan instan bagi skuad yang tengah terpuruk.
Lamouchi, mantan pemain internasional Prancis, baru menjabat sejak Januari 2026. Masa kepemimpinannya yang singkat berakhir setelah kekalahan memalukan dari Swedia, yang membuat Tunisia harus berjuang keras untuk bisa melaju ke babak gugur. Saat ini, Tunisia berada di dasar klasemen Grup F dengan selisih gol yang buruk, sementara Jepang, lawan mereka selanjutnya, memiliki modal lebih baik setelah bermain imbang melawan lawan lain.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergantian pelatih Tunisia ini menarik karena Renard adalah figur yang sudah tidak asing. Ia pernah membawa Arab Saudi, yang juga wakil Asia, meraih kemenangan bersejarah atas Argentina di Qatar 2022. Pengalamannya menangani tim Asia bisa menjadi modal berharga, namun tantangan di Tunisia jauh lebih berat: waktu persiapan yang sangat singkat dan tekanan untuk segera meraih hasil.
Renard sendiri dikenal sebagai pelatih yang pragmatis dan mampu membangkitkan semangat tim. Namun, ia harus segera beradaptasi dengan pemain Tunisia yang mayoritas bermain di liga Eropa dan Afrika. Pertandingan melawan Jepang pada akhir pekan ini akan menjadi ujian pertama bagi Renard. Jika gagal meraih poin, peluang Tunisia untuk lolos ke babak 16 besar akan semakin tipis, mengingat masih ada laga melawan unggulan grup lainnya.
Keputusan memecat pelatih di tengah turnamen memang selalu berisiko, tetapi federasi Tunisia tampaknya lebih memilih langkah cepat daripada menunggu kehancuran lebih lanjut. Pertanyaannya, mampukah Renard mengulang keajaiban seperti saat bersama Arab Saudi, atau justru nasib Tunisia akan semakin suram?



