Skotlandia vs Haiti: Lima Pemain Kunci yang Mengancam Mimpi Piala Dunia Steve Clarke
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia akan menghadapi Haiti di laga perdana Piala Dunia 2026, dengan Haiti yang hanya sekali lolos sebelumnya pada 1974.
- Lima pemain Haiti patut diwaspadai, termasuk Wilson Isidor yang pindah kewarganegaraan dan Duckens Nazon yang selamat dari perang di Iran.
- Pertandingan ini menjadi ujian awal bagi Skotlandia yang baru kembali ke panggung Piala Dunia setelah 28 tahun absen.

Skotlandia mengawali petualangan Piala Dunia pertama mereka dalam 28 tahun dengan menghadapi Haiti pada Minggu dini hari WIB. Laga ini bukan sekadar nostalgia bagi para pendukung Skotlandia, melainkan juga ujian berat melawan tim yang hanya sekali tampil di turnamen paling bergengsi sepak bola itu, yakni pada 1974. Haiti, yang nyaris seluruh skuadnya bermain di luar negeri, datang dengan ambisi besar dan beberapa pemain berbahaya yang patut diwaspadai.
Haiti lolos ke Piala Dunia 2026 setelah melewati babak kualifikasi yang ketat. Di bawah asuhan pelatih Sebastien Migne, mereka mencatat tiga kemenangan dan dua hasil imbang dalam enam pertandingan terakhir. Meski dianggap sebagai tim underdog, Haiti memiliki senjata ampuh dalam skema serangan balik cepat. Lima pemain berikut diprediksi menjadi ancaman utama bagi lini pertahanan Skotlandia.
Wilson Isidor, penyerang Sunderland berusia 25 tahun, menjadi sorotan utama. Mantan pemain timnas Prancis U-21 ini memutuskan membela Haiti setelah didorong oleh para penggemar di media sosial. Ayah dan kakeknya berasal dari negara Karibia tersebut. Isidor mencetak gol pada debutnya sebagai starter saat Haiti imbang 1-1 melawan Islandia pada Maret lalu. "Sudah 52 tahun sejak Haiti terakhir kali di Piala Dunia, dan pencetak gol pertama (Emmanuel Sanon) adalah legenda besar di sana. Saya berharap menjadi yang kedua," ujar Isidor, yang tengah dalam performa apik dengan empat gol dalam sembilan pertandingan terakhirnya.
Di lini tengah, Jean-Ricner Bellegarde menjadi motor serangan Haiti. Gelandang Wolves yang direkrut dari Strasbourg seharga ยฃ12,8 juta pada 2023 ini telah tampil dalam 83 pertandingan Premier League. Bellegarde menjadi andalan Migne sejak direkrut tahun lalu dan bermain penuh dalam enam laga kualifikasi. Kemampuannya dalam mengatur tempo permainan dan melepaskan umpan-umpan terobosan akan menjadi tantangan bagi gelandang Skotlandia.
Di sektor pertahanan, nama Hannes Delcroix patut diwaspadai. Bek Lugano ini sebelumnya membela timnas Belgia pada 2020 sebelum beralih ke Haiti tahun lalu. Ia membentuk duet tangguh bersama Ricardo Ade di jantung pertahanan Haiti selama kualifikasi, membantu tim meraih kemenangan penting yang memastikan tiket ke Piala Dunia. Delcroix, jebolan akademi Anderlecht, pernah bermain untuk Burnley di bawah asuhan Vincent Kompany pada 2023.
Di bawah mistar, kapten Johny Placide menjadi pilar utama. Kiper berusia 38 tahun yang bermain untuk Bastia di kasta kedua Prancis ini sempat diragukan tampil setelah menjalani operasi lutut pada Maret lalu. Namun, ia pulih tepat waktu dan bermain 45 menit dalam laga uji coba melawan Selandia Baru yang dimenangi Haiti 4-0 pada 2 Juni. Pengalamannya di Liga Inggris bersama Oldham Athletic menjadi modal berharga.
Pemain paling menarik perhatian adalah Duckens Nazon, pencetak gol terbanyak sepanjang masa Haiti dengan 44 gol dalam 83 penampilan. Penyerang berusia 32 tahun ini menjadi top skor kualifikasi dengan enam gol. Namun, kisahnya di luar lapangan tak kalah dramatis. Nazon terpaksa meninggalkan Iran setelah perang mengakhiri musimnya bersama Esteghlal. Bom dilaporkan jatuh hanya 100 meter dari tempatnya berada, memaksanya melarikan diri melalui Azerbaijan. Sebelumnya, ia sempat bermain di Skotlandia bersama St Mirren pada musim 2018-2019, mencetak dua gol dalam 12 pertandingan. Pengalaman itu memberinya pengetahuan tentang sepak bola Skotlandia yang bisa menjadi keuntungan tersendiri.
Bagi Skotlandia, laga ini menjadi ujian awal yang krusial. Pelatih Steve Clarke harus menyiapkan strategi jitu untuk meredam agresivitas Haiti yang mengandalkan kecepatan dan serangan balik. Kegagalan meraih poin penuh bisa mempersulit langkah mereka di babak grup. Di sisi lain, kemenangan akan menjadi modal berharga untuk membangun momentum setelah sekian lama absen dari panggung dunia.



