Pasar Bergejolak, Investor Beralih ke Reksadana Pendapatan Tetap: Ini Jurus AMII
Baca dalam 60 detik
- Industri reksadana Indonesia baru pulih pada 2025 setelah tertekan pandemi, namun gejolak pasar global kembali menguji kinerja produk berbasis saham.
- Asosiasi Manajer Investasi Indonesia mencatat pergeseran preferensi investor dari reksadana saham ke instrumen berbasis suku bunga seperti RDPU dan RDPT.
- Edukasi dan literasi pasar modal dinilai menjadi kunci untuk menjaga optimisme investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Industri reksadana Indonesia perlahan bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, namun kini kembali dihadapkan pada ujian berat berupa gejolak pasar global. Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Lolita Liliana, mengungkapkan bahwa sektor ini baru mencatat pemulihan signifikan pada 2025, setelah sebelumnya mengalami tekanan berkepanjangan. Namun, ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu oleh kebijakan moneter agresif bank sentral negara maju dan ketegangan geopolitik membuat investor semakin berhati-hati.
AMII mencatat adanya pergeseran kelas aset yang cukup mencolok. Dana kelolaan investor mulai meninggalkan reksadana saham yang berisiko tinggi dan beralih ke instrumen berbasis suku bunga, seperti Reksadana Pendapatan Utama (RDPU), Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), dan reksadana terproteksi. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya sikap konservatif pelaku pasar di tengah volatilitas yang tinggi. "Kami melihat penurunan kinerja reksadana yang lebih dalam sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian pasar," ujar Lolita dalam dialog di program Power Lunch CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Bagi investor Indonesia, pergeseran ini memiliki implikasi langsung. Reksadana saham yang sebelumnya menjadi primadona kini mulai ditinggalkan karena risikonya yang tinggi di tengah gejolak. Sebaliknya, produk berbasis suku bunga menawarkan kestabilan yang lebih baik, meskipun potensi keuntungannya lebih terbatas. Lolita menekankan bahwa diversifikasi portofolio menjadi strategi kunci untuk menghadapi situasi ini. "Investor perlu memahami profil risiko dan tujuan investasinya. Jangan hanya mengejar return tinggi tanpa mempertimbangkan risiko," tambahnya.
AMII berharap peningkatan edukasi dan literasi pasar modal dapat mendorong optimisme investor terhadap prospek investasi di Indonesia. Meskipun gejolak global tidak bisa dihindari, pemahaman yang lebih baik tentang instrumen investasi diharapkan mampu mengurangi kepanikan dan mendorong keputusan yang lebih rasional. Lolita juga menyoroti pentingnya peran manajer investasi dalam memberikan informasi yang transparan dan akurat kepada nasabah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pergeseran ke instrumen berbasis suku bunga ini bersifat sementara atau akan menjadi tren jangka panjang. Jika ketidakpastian global berlanjut, bukan tidak mungkin investor akan semakin menjauhi aset berisiko. Namun, jika kondisi ekonomi membaik, reksadana saham bisa kembali menarik minat. Yang jelas, edukasi pasar tetap menjadi fondasi utama untuk membangun kepercayaan investor di tengah dinamika yang terus berubah.



