Cadangan Aluvial Menipis, PT Timah Gali Laut hingga 80 Meter
Baca dalam 60 detik
- PT Timah Tbk (TINS) akan menambang timah di kedalaman laut 80 meter, naik dari rata-rata 50 meter, untuk mengganti cadangan aluvial yang kian menipis.
- Perusahaan juga mengembangkan tambang primer di darat dan mengandalkan GIS serta drone untuk mempercepat eksplorasi cadangan baru.
- Ekspansi global menjadi agenda berikutnya agar TINS tak hanya bergantung pada sumber daya domestik dan memperkuat posisi di rantai pasok mineral kritis.

PT Timah Tbk (TINS) bersiap menembus kedalaman laut hingga 80 meter untuk menambang bijih timah, langkah yang ditempuh setelah cadangan di area aluvial—sumber utama produksi selama ini—semakin menipis. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa perusahaan pelat merah anggota holding MIND ID itu tengah berupaya keras memperpanjang usia tambang di tengah tekanan permintaan global terhadap mineral kritis.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha TINS, Harry Budi Sidharta, mengungkapkan bahwa perseroan saat ini mematangkan penggunaan teknologi baru untuk mendukung operasi di laut dalam. Rata-rata aktivitas tambang laut perusahaan selama ini berada di kedalaman 50 meter, namun ke depan akan ditingkatkan secara bertahap. "Kita akan masuk ke 80 meter lagi di bawah laut. Kami berusaha menemukan alat-alat baru yang lebih prospektif," ujarnya dalam konferensi pers RUPST Tahun Buku 2025 di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Langkah ini tidak hanya sekadar memperdalam jangkauan. TINS juga mulai melirik pengembangan tambang primer di darat, yang selama ini belum tergarap maksimal. Berbeda dengan tambang aluvial, tambang primer menuntut teknologi pemisahan mineral yang lebih kompleks karena bijih timah terperangkap dalam batuan keras. Perusahaan perlu menggiling batuan hingga sangat halus sebelum memisahkan mineralnya—sebuah proses yang membutuhkan investasi besar dan keahlian teknis baru.
Direktur Produksi dan Komersial TINS, Ilhamsyah Mahendra, menekankan bahwa eksplorasi agresif menjadi prioritas utama. "Kami memiliki sekitar 800.000 ton sumber daya dan 300.000 ton cadangan. Angka itu hanya untuk 10-15 tahun. Kami butuh jauh lebih banyak deposit untuk lebih dari seratus tahun," katanya dalam Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Untuk mempercepat penemuan titik cadangan baru, TINS mulai mengandalkan teknologi pemetaan digital dan pemantauan udara di wilayah konsesi.
Di luar eksplorasi domestik, TINS juga mulai menjajaki ekspansi ke luar negeri. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya dalam negeri sekaligus memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis dunia. "Kami mencari aset pertambangan di luar Indonesia dan sangat terbuka untuk kemitraan dengan perusahaan timah global," tandas Ilhamsyah.
Bagi investor dan pelaku industri, langkah TINS ini memberikan gambaran bahwa masa depan tambang timah Indonesia tidak lagi bergantung pada cadangan dangkal yang mudah dijangkau. Perusahaan harus berani berinvestasi pada teknologi canggih dan eksplorasi jarak jauh. Pertanyaannya, mampukah TINS mengejar ketertinggalan teknologi dan membiayai ekspansi di tengah volatilitas harga timah dunia? Atau justru ekspansi global akan menjadi kunci untuk menjaga dominasi Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia?



