BOJ Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995, Sinyal Normalisasi Moneter Jepang
Baca dalam 60 detik
- Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan ke 1%, level tertinggi dalam 31 tahun, sebagai respons terhadap lonjakan harga energi global.
- Langkah ini menandai berakhirnya era kebijakan moneter darurat yang berlangsung dua dekade, dengan Jepang kini memasuki siklus inflasi.
- Kenaikan suku bunga berpotensi mempengaruhi pasar keuangan Asia dan nilai tukar yen, yang relevan bagi investor Indonesia di pasar obligasi dan valas.

Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuannya ke level 1% pada Selasa (18/6), level tertinggi sejak 1995, menandai babak baru dalam kebijakan moneter Negeri Sakura setelah puluhan tahun bergulat dengan deflasi. Keputusan ini diambil di tengah tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi global, termasuk dampak perang di Iran terhadap pasokan minyak dan gas.
Kenaikan sebesar 25 basis poin dari sebelumnya 0,75% ini merupakan langkah lanjutan dari proses normalisasi yang dimulai BOJ pada Maret 2024, ketika untuk pertama kalinya dalam 17 tahun bank sentral tersebut menaikkan suku bunga. Sejak pertengahan 1990-an, Jepang mempertahankan suku bunga mendekati nol untuk mendorong pertumbuhan dan melawan deflasi yang berkepanjangan. Kini, dengan inflasi yang mulai merangkak naik, BOJ menilai sudah saatnya meninggalkan kebijakan krisis.
"Setelah dua dekade deflasi, Jepang kini berada dalam siklus inflasi," ujar ekonom Jepang Jesper Koll. Ia menambahkan bahwa kebijakan moneter darurat tidak lagi diperlukan dan BOJ ingin kembali ke kebijakan normal. Meskipun inflasi Jepang masih di bawah target 2%—tercatat 1,4% pada April—tekanan dari sisi harga produsen sudah terasa. Indeks harga grosir melonjak lebih dari 6% pada Mei dibanding tahun lalu, laju tercepat dalam tiga tahun.
Keputusan BOJ ini tidak lepas dari upaya menstabilkan nilai tukar yen yang terus tertekan oleh dolar AS dan euro. Gubernur BOJ Kazuo Ueda, meskipun absen dalam rapat karena menjalani perawatan infeksi kista hati, sebelumnya telah mengisyaratkan sikap hawkish. "Jika risiko kenaikan harga lebih besar daripada risiko perlambatan ekonomi, perlu dibahas secara mendalam pro dan kontra kenaikan suku bunga," ujarnya awal bulan ini.
Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang dikenal mendukung belanja negara, sebelumnya enggan menaikkan suku bunga. Namun, sejak menjabat tahun lalu, ia tidak secara terbuka mengkritik langkah BOJ. Tekanan untuk mengendalikan inflasi dan memperkuat yen tampaknya menjadi pertimbangan utama. "Ada persepsi bahwa yen terlalu murah dan menaikkan suku bunga tidak akan merugikan," kata Ulrike Schaede, profesor bisnis dari University of California San Diego.
Bagi Indonesia, langkah BOJ ini patut dicermati. Jepang merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi langsung. Kenaikan suku bunga Jepang berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor mencari imbal hasil lebih tinggi di Jepang. Di sisi lain, yen yang menguat dapat menekan ekspor Indonesia ke Jepang, tetapi juga meredakan tekanan impor barang modal dari Jepang. Bank Indonesia perlu mewaspadai dampak terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Meskipun suku bunga Jepang naik, levelnya masih jauh di bawah negara maju lain. AS dan Inggris misalnya, memiliki suku bunga di atas 3%. Namun, langkah BOJ ini bisa menjadi awal "realignment global" yang lambat, seperti diungkapkan Schaede. Pertanyaannya, akankah bank sentral lain mengikuti jejak Jepang, atau justru sebaliknya? Yang jelas, era uang murah di Jepang telah berakhir, dan dampaknya akan terasa di seluruh rantai pasok dan pasar keuangan Asia.