Topuria Dorong Gaethje di Depan Lincoln Memorial: Pemanasan UFC Freedom 250
Baca dalam 60 detik
- Insiden dorong-mendorong antara Ilia Topuria dan Justin Gaethje mewarnai konferensi pers final UFC Freedom 250 di Washington DC.
- Acara yang digelar di halaman Gedung Putih pada Minggu (30/3) ini merupakan ajang olahraga profesional pertama yang diadakan di lokasi tersebut.
- UFC telah menggelontorkan dana sekitar 60 juta dolar AS untuk menyelenggarakan pertarungan bersejarah yang bertepatan dengan perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

Ketegangan memuncak saat juara kelas ringan UFC, Ilia Topuria, mendorong lawannya Justin Gaethje di depan Monumen Lincoln, Washington DC, dalam konferensi pers terakhir sebelum pertarungan unifikasi gelar yang belum pernah terjadi sebelumnya di halaman Gedung Putih, Minggu (30/3).
Topuria, petarung asal Georgia-Spanyol berusia 29 tahun yang belum terkalahkan dalam 17 pertarungan, tiba-tiba mendorong Gaethje setelah kedua petarung saling melontarkan prediksi kemenangan. Gaethje, yang memegang gelar interim, justru menanggapi insiden itu dengan tawa. Presiden UFC Dana White segera memisahkan mereka dengan senyum kecut, sementara Gaethje berkomentar, "Lihat di mana kita berada, pemandangan indah ini, dan kau mau bertingkah seperti binatang?"
Sebelumnya, Topuria dengan percaya diri menyatakan akan "menghabisi" Gaethje di ronde pertama. "Saya tahu saya yang terbaik di dunia. Dalam dua hari kita akan berbagi tempat yang sama. Buktikan saya salah jika Anda bisa," ujar Topuria. Gaethje, yang berusia 37 tahun, tidak tinggal diam dan membalas dengan pernyataan bahwa ia akan merebut sabuk juara dari Topuria.
Konferensi pers yang diadakan di Lincoln Memorial itu sempat tertunda sekitar satu jam akibat cuaca buruk. Badai petir diperkirakan masih akan melanda Washington DC pada hari pertandingan, menjadi ancaman terbesar bagi kelancaran acara. Dana White sendiri mengaku "muak" dengan pertanyaan soal cuaca dan menegaskan pertarungan tetap akan digelar apa pun kondisinya, kecuali jika ada petir. "Kalau hujan, kita tetap jalan. Kalau salju, kita tetap jalan. Satu-satunya yang bisa menghentikan kita adalah petir," tegas White.
Selain duel utama, pertarungan perebutan gelar interim kelas berat antara Ciryl Gane (Prancis) dan Alex Pereira (Brasil) juga menyedot perhatian. Jika Pereira menang, ia akan mencatatkan sejarah sebagai petarung pertama yang menyandang sabuk juara di tiga divisiโkelas menengah, kelas berat ringan, dan kelas berat. Topuria sendiri memuji Pereira sebagai salah satu yang terhebat sepanjang masa (GOAT). "Dia sudah menjadi GOAT. Salah satu dari banyak GOAT di olahraga ini. Tanpa keraguan, dia akan masuk dalam daftar itu," puji Topuria.
Acara yang diberi nama UFC Freedom 250 ini tidak lepas dari kontroversi. Sebuah gugatan hukum yang diajukan oleh Public Integrity Project, yang menuding penyelenggaraan acara di monumen nasional sebagai "penyalahgunaan tempat suci untuk keuntungan pribadi" oleh pemerintahan Trump, ditolak oleh Hakim Amit P. Mehta pada Jumat (28/3). Dengan demikian, pertarungan dipastikan berlangsung sesuai jadwal.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, ajang ini menjadi tontonan yang menarik karena menghadirkan pertarungan kelas dunia dengan latar belakang politik dan sejarah yang kental. Meski tidak ada petarung Indonesia yang terlibat, popularitas UFC di Tanah Air terus meningkat, terutama setelah kesuksesan petarung seperti Jeka Saragih di ajang Road to UFC. Pertarungan di Gedung Putih ini bisa menjadi momentum bagi UFC untuk semakin memperluas pasar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Dengan investasi sebesar 60 juta dolar AS dan status sebagai acara olahraga profesional pertama di Gedung Putih, UFC Freedom 250 berpotensi menjadi tonggak sejarah baru dalam dunia MMA. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah cuaca akan bersahabat dan apakah pertarungan utama akan berjalan sesuai prediksiโatau justru berakhir dengan kejutan?



