Gurun Taklamakan Terendam Banjir: Tanda Darurat Iklim yang Mengancam Infrastruktur China
Baca dalam 60 detik
- Gurun Taklamakan di Xinjiang mengalami banjir pertama tahun ini pada awal Juni, jauh lebih awal dari pola historis yang biasanya terjadi pada Agustus.
- Suhu ekstrem 38°C dan curah hujan dua hingga tiga kali lipat dari rata-rata memicu pencairan gletser dan luapan Sungai Tarim.
- Banjir gurun menimbulkan risiko serius bagi jaringan transportasi dan fasilitas energi China, serta menjadi peringatan bagi negara rawan bencana seperti Indonesia.

Gurun Taklamakan, salah satu kawasan paling kering di dunia, kini menghadapi ancaman yang paradoks: banjir besar. Otoritas China telah memperingatkan masyarakat di Xinjiang dan sekitarnya untuk bersiap menghadapi "banjir ekstrem" sepanjang musim panas ini, dipicu oleh suhu yang melonjak drastis, hujan deras, dan pencairan gletser yang dipercepat.
Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa banjir pertama tahun ini telah terjadi di Gurun Taklamakan pada awal Juni, dengan rekaman menunjukkan genangan air memenuhi bukit pasir. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru—banjir serupa pernah terjadi sejak 2021—namun biasanya baru muncul pada Agustus saat puncak musim panas. Tahun ini, suhu melonjak jauh lebih awal. Pada 12 Juni, suhu di Xinjiang mencapai 38°C, atau 7,3 derajat lebih panas dari rata-rata historis, menurut Reuters Climate Monitor.
Curah hujan di Xinjiang barat dan selatan juga meningkat drastis. Di beberapa wilayah, volume presipitasi mencapai dua hingga tiga kali lipat dari rata-rata untuk awal Juni. Kombinasi panas ekstrem dan hujan deras ini memicu banjir gurun yang tidak biasa. Lapisan es dan salju di Pegunungan Tianshan dan Kunlun mencair dalam skala besar, mengalirkan air ke Sungai Tarim—sungai pedalaman terpanjang di China. Debit air yang melonjak menyebabkan sungai meluap dan merendam dataran rendah di Gurun Taklamakan.
Meskipun banjir musiman ini untuk sementara menciptakan oasis kecil yang menyediakan irigasi bagi hutan lokal, para ahli memperingatkan bahwa efeknya tidak akan bertahan lama. Letak Gurun Taklamakan yang berada jauh di pedalaman dan dikelilingi pegunungan tinggi menyebabkan kelembaban rendah dan penguapan ekstrem, sehingga air akan cepat mengering. Namun, risiko terhadap infrastruktur justru menjadi perhatian utama. Sun Qianqian, analis dari Administrasi Meteorologi China, menyatakan kepada CCTV bahwa "banjir ekstrem dapat menghancurkan jalan, rel kereta api, serta fasilitas minyak dan gas, menimbulkan risiko bencana yang signifikan."
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga banjir di tempat yang tak terduga. Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi, pola cuaca ekstrem seperti ini memberikan pelajaran berharga. Infrastruktur vital di daerah rawan banjir perlu diperkuat, dan sistem peringatan dini harus ditingkatkan untuk mengantisipasi kejadian serupa. Pertanyaan yang muncul: apakah negara-negara tropis seperti Indonesia siap menghadapi anomali cuaca yang semakin tidak terduga?



