Banjir Bandang Muson Pakistan: 109 Tewas, Ribuan Warga Terjebak tanpa Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Pakistan mencatat 109 kematian akibat banjir sejak akhir Juni, dengan ribuan warga masih terisolasi tanpa makanan dan air bersih.
- Peningkatan debit Sungai Ravi akibat hujan muson memperparah krisis kemanusiaan di Provinsi Punjab dan sekitarnya.
- Bencana ini menjadi peringatan bagi Indonesia yang juga rentan terhadap banjir muson dan perubahan iklim ekstrem.

Banjir muson yang melanda Pakistan sejak akhir Juni telah menewaskan sedikitnya 109 orang, sementara ribuan lainnya terpaksa mengungsi dan bertahan tanpa akses listrik, air bersih, maupun makanan. Lonjakan air Sungai Ravi di dekat Kota Muridke, Provinsi Punjab, pada Selasa (27/7) memaksa warga menggunakan perahu darurat untuk menyelamatkan diri dari permukiman yang terendam.
Muson tahun ini lebih ganas dari prediksi. Otoritas manajemen bencana Pakistan melaporkan bahwa total korban meninggal terus bertambah seiring meluasnya genangan di wilayah dataran rendah. Selain korban jiwa, kerugian materi diperkirakan besar karena ribuan hektare lahan pertanian dan pemukiman rusak. Di beberapa titik, warga harus berjalan di air setinggi pinggang untuk mencapai tempat evakuasi.
Konflik kemanusiaan ini mengingatkan pada banjir besar Pakistan tahun 2022 yang menelan lebih dari 1.700 korban jiwa. Meski skala tahun ini belum separah saat itu, pola cuaca ekstrem yang kian sering menjadi kekhawatiran para ahli iklim. Pakistan, seperti Indonesia, berada di zona tropis yang sangat rentan terhadap perubahan pola muson akibat pemanasan global.
Bagi Indonesia, bencana serupa bukanlah hal asing. Setiap musim hujan, banjir dan longsor kerap melanda berbagai daerah, seperti di Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa kali mengingatkan bahwa intensitas hujan muson di Indonesia juga meningkat dalam satu dekade terakhir. โPakistan adalah cermin: jika kita tidak memperkuat infrastruktur mitigasi banjir dan sistem peringatan dini, risiko korban jiwa akan terus bertambah,โ ujar analis kebencanaan dari Universitas Indonesia.
Pemerintah Pakistan sendiri telah mengerahkan tim penyelamat dan mendirikan tenda pengungsian di daerah aman. Namun, keterbatasan akses dan logistik menjadi kendala utama. Jaringan jalan rusak dan listrik padam membuat distribusi bantuan berjalan lambat. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah sistem penanggulangan bencana di Pakistan mampu menghadapi gelombang cuaca ekstrem berikutnya yang diprediksi masih akan berlangsung hingga September?
Di tengah krisis, masyarakat internasional mulai menawarkan bantuan, namun koordinasi di lapangan masih menjadi tantangan. Evakuasi dengan perahu menjadi pemandangan sehari-hari, sementara warga yang tertinggal berjuang mendapat suplai dasar. Peristiwa ini kembali menegaskan urgensi investasi pada infrastruktur tahan iklim bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.



