Kontroversi Pelanggaran Kiper Bosnia: Rooney vs Cann soal Kartu Merah
Baca dalam 60 detik
- Insiden tabrakan kiper Bosnia Vasilj dengan striker Kanada Oluwaseyi memicu perdebatan sengit di studio BBC.
- Wayne Rooney menilai pelanggaran itu layak kartu merah karena membahayakan keselamatan lawan, sementara Darren Cann berpendapat kiper lebih dulu menyentuh bola.
- Perbedaan interpretasi aturan FIFA soal 'serious foul play' menjadi inti perdebatan yang relevan bagi perkembangan wasit di Indonesia.

Pertandingan persahabatan antara Kanada dan Bosnia-Herzegovina yang berakhir imbang 1-1 menyisakan kontroversi besar pada menit ke-49. Kiper Bosnia Nikola Vasilj, saat berusaha menepis bola, justru memukul kepala striker Kanada Tani Oluwaseyi dengan tinjunya. Wasit asal Argentina Facundo Tello memutuskan tidak memberikan penalti maupun kartu merah, meski insiden itu memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat.
Dua pakar sepak bola BBC, Wayne Rooney dan Darren Cann, berbeda pendapat secara diametral. Rooney, mantan kapten timnas Inggris, menilai tindakan Vasilj sangat berbahaya dan seharusnya diusir dari lapangan. "Tinjuannya mengenai pelipis, tempat paling rentan. Pemain bisa pingsan atau mengalami gegar otak tertunda. Itu kartu merah jelas," ujarnya. Cann, yang pernah menjadi asisten wasit di final Piala Dunia 2014, justru membela keputusan wasit. Menurutnya, Vasilj lebih dulu menyentuh bola sehingga kontak berikutnya dianggap wajar. "Kiper jelas memainkan bola lebih dulu. Kontak setelahnya tidak terhindarkan, bukan pelanggaran serius," kata Cann.
Perdebatan ini berpusat pada interpretasi Aturan 12 FIFA tentang 'serious foul play'. Aturan tersebut menyebutkan bahwa tekel atau tantangan yang membahayakan keselamatan lawan atau menggunakan kekuatan berlebihan harus dihukum kartu merah. Namun, klausul 'memainkan bola lebih dulu' sering menjadi zona abu-abu. Dalam kasus ini, Vasilj memang meninju bola terlebih dahulu, namun ayunan tinjunya terus mengenai kepala Oluwaseyi dengan keras. Rooney menekankan bahwa meskipun kiper memenangkan bola, gerak lanjutan yang membahayakan tetap bisa dihukum, seperti halnya tekel kaki yang berlebihan.
Mantan penyerang Prancis Olivier Giroud, yang juga menjadi panelis BBC, mencoba melihat dari kedua sisi. Sebagai striker, ia mengaku frustrasi jika tidak mendapat penalti. Namun, ia memahami argumen Cann bahwa sulit bagi kiper untuk menarik tangannya setelah memukul bola. "Kamu memukul bola dulu, lalu sulit menghentikan tangan mengenai kepala lawan," ujar Giroud. Pernyataan ini mencerminkan dilema wasit dalam membedakan antara kontak yang tidak disengaja dan pelanggaran berbahaya.
Bagi sepak bola Indonesia, kontroversi ini menjadi pelajaran berharga. Wasit di Liga Indonesia sering menghadapi situasi serupa, terutama dalam duel kiper dan penyerang. Ketua Komite Wasit PSSI, dalam beberapa kesempatan, menekankan pentingnya konsistensi interpretasi aturan. Insiden seperti ini bisa menjadi bahan diskusi untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di lapangan. Apalagi, dengan semakin ketatnya standar keselamatan pemain, wasit dituntut lebih tegas terhadap pelanggaran yang membahayakan.
Ke depannya, FIFA mungkin perlu memperjelas panduan mengenai 'follow-through' kiper. Apakah kontak setelah memenangkan bola tetap bisa dihukum jika membahayakan? Ataukah prioritas tetap pada siapa yang lebih dulu menyentuh bola? Pertanyaan ini masih menggantung, dan jawabannya akan memengaruhi cara wasit di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memimpin pertandingan.



