Thailand Berduka: Sang Putri yang Mengubah Sistem Penanggulangan Bencana Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Putri Bajrakitiyabha, arsitek jaringan bantuan bencana Thailand, meninggal setelah tiga tahun dirawat akibat penyakit jantung.
- Yayasannya, Friends in Need, mengubah respons banjir 1995 menjadi sistem manajemen bencana berkelanjutan bernilai jutaan dolar.
- Pemerintah Thailand menetapkan masa berkabung 15 hari, namun aktivitas publik tetap berjalan normal.

Thailand kehilangan salah satu tokoh kemanusiaan paling berpengaruh setelah Putri Bajrakitiyabha Narendira Debyavati, putri sulung Raja Maha Vajiralongkorn, meninggal dunia pada Kamis malam setelah lebih dari tiga tahun menjalani perawatan intensif akibat kolaps mendadak karena kondisi jantung. Sang putri, yang akrab disapa Putri Pa, dikenal luas sebagai penggagas jaringan bantuan bencana yang menyelamatkan ribuan nyawa.
Pemerintah Thailand, melalui Perdana Menteri Anutin Charnvirakul, mengumumkan masa berkabung resmi selama 15 hari. Namun, Anutin menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mengubah rutinitas harian mereka. "Ketika menjalankan tugas, hidup, dan mencari nafkah, semuanya harus berjalan normal. Ini adalah saat kita menyimpan duka di dalam hati," ujarnya setelah rapat kabinet pada Jumat. Bendera nasional di kantor pemerintah dan sekolah akan dikibarkan setengah tiang, sementara pegawai negeri diimbau mengenakan pakaian hitam.
Yang membedakan Putri Pa dari anggota kerajaan lain adalah warisannya yang konkret: Yayasan Friends in Need (of "Pa") di bawah Palang Merah Thailand. Berawal dari banjir besar Bangkok tahun 1995, ketika ia bersama ibunya, Putri Soamsawali, turun langsung memasak makanan, mengemas obat-obatan, dan mendistribusikan bantuan ke permukiman kumuh yang terisolasi. Dari aksi spontan itu, lahirlah proyek yang kemudian menjadi fondasi sistem penanggulangan bencana nasional.
Bagi Indonesia, yang juga kerap dilanda bencana hidrometeorologi, model yang dibangun Putri Pa menawarkan pelajaran berharga. Alih-alih mengandalkan donasi finansial tradisional, yayasannya membangun sistem yang terintegrasi: dari peringatan dini, logistik, hingga pemulihan pascabencana. Pendekatan ini relevan mengingat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia masih bergulat dengan koordinasi bantuan yang kerap tumpang tindih. "Filosofinya sederhana: menjadi teman yang bisa diandalkan ketika tetangga tidak punya tempat berpaling," demikian prinsip yang dipegang yayasan tersebut.
Masa berkabung kali ini berlangsung di tengah duka nasional yang masih menyelimuti Thailand. Negara itu tengah menjalani masa berkabung setahun untuk Ratu Ibu Sirikit yang wafat pada Oktober 2025, dengan upacara pemakaman dijadwalkan pada Desember mendatang. Raja telah mengizinkan publik menghadiri upacara pemandian jenazah di Istana Besar pada Sabtu pagi, serta menandatangani buku belasungkawa mulai Minggu. Pegawai negeri akan mengikuti upacara pembacaan doa Buddhis setiap hari selama 100 hari ke depan.
Stasiun televisi di seluruh Thailand, baik milik negara maupun swasta, telah mengubah grafis dan skema warna menjadi lebih redup sebagai bentuk penghormatan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah warisan sistem penanggulangan bencana yang dibangun Putri Pa terus berjalan tanpa kehadirannya, atau justru menjadi momentum bagi negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, untuk mengadopsi model serupa?



