Tiga Gunung Api di Indonesia Timur Meletus Serentak, Status Siaga di Lewotobi Laki-laki
Baca dalam 60 detik
- Gunung Dukono, Ibu, dan Lewotobi Laki-laki erupsi dalam rentang waktu kurang dari dua jam pada Jumat pagi, mengeluarkan kolom abu setinggi 400-500 meter.
- Badan Geologi menaikkan status Gunung Lewotobi Laki-laki ke Level III (Siaga), sementara dua gunung lainnya berada di Level II (Waspada).
- Masyarakat di sekitar gunung diminta menjauhi radius aman dan mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama di wilayah aliran sungai.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257261/original/038233600_1781233599-1781227790256_copy_4128x2296__1_.jpg)
Tiga gunung api aktif di kawasan timur Indonesia meletus hampir bersamaan pada Jumat pagi, 12 Juni 2026, memicu kekhawatiran akan dampak abu vulkanik terhadap penerbangan dan permukiman. Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur langsung dinaikkan statusnya menjadi Siaga (Level III), sementara Gunung Dukono dan Gunung Ibu di Maluku Utara masih pada level Waspada.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengonfirmasi bahwa erupsi pertama terjadi di Gunung Dukono, Halmahera Utara, pukul 06.15 WIT. Disusul Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur pukul 07.04 WITA, dan terakhir Gunung Ibu di Halmahera Barat pukul 07.45 WIT. Ketiga gunung ini berada dalam satu busur vulkanik yang membentang dari Sumatra hingga Papua, namun letusan serentak dalam waktu berdekatan tergolong langka.
Kolom abu yang dilontarkan bervariasi antara 400 hingga 500 meter di atas puncak kawah. Gunung Dukono memuntahkan abu putih ke kelabu setinggi 500 meter yang condong ke barat laut, dengan amplitudo seismogram 12 milimeter. Sementara Gunung Lewotobi Laki-laki mencatatkan kolom abu kelabu setinggi 400 meter ke arah barat dan barat laut, dengan amplitudo maksimum 47,3 milimeter selama 46 detik โ angka yang cukup besar mengindikasikan tekanan magma yang kuat. Gunung Ibu melontarkan abu kelabu tebal setinggi 400 meter ke barat, dengan amplitudo 28 milimeter dan dentuman selama 45 detik.
Bagi warga di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, ancaman tidak hanya dari abu vulkanik. Badan Geologi memperingatkan potensi banjir lahar hujan di sepanjang sungai yang berhulu di puncak gunung, terutama di desa Dulipali, Klatanlo, dan Hokeng Jaya. Saat hujan lebat, material vulkanik yang menumpuk dapat terbawa aliran air dan merusak pemukiman. Sementara itu, masyarakat di sekitar Gunung Ibu dan Dukono diminta menyiapkan masker dan pelindung mata untuk mengantisipasi paparan abu yang dapat mengganggu pernapasan.
Letusan serentak ini menyoroti kerentanan Indonesia sebagai negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, lebih dari 120 gunung api aktif mengancam jutaan jiwa. Namun, sistem monitoring Badan Geologi yang terus diperbarui memungkinkan deteksi dini dan evakuasi cepat. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah aktivitas ketiga gunung ini merupakan pertanda peningkatan kegempaan regional, atau sekadar siklus alami yang biasa terjadi? Para ahli akan terus memantau pergerakan magma dan deformasi tanah untuk menjawabnya.
