Skotlandia dan Mimpi Buruk Italia 90: Ketika Opera Pavarotti Menjadi Lagu Duka
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 1990 setelah kalah tipis dari Kosta Rika dan Brasil, hanya menang atas Swedia.
- Kekalahan dari debutan Kosta Rika menjadi titik balik, memperlihatkan kelemahan persiapan Skotlandia yang terbuka dibanding lawan yang tertutup.
- Kegagalan ini memperpanjang catatan pahit Skotlandia di Piala Dunia, dengan hanya dua poin dan harus menunggu hasil laga lain yang tidak menguntungkan.

Opera Nessun Dorma yang dilantunkan Luciano Pavarotti menggema di Italia 1990, namun bagi Skotlandia, aria tersebut justru menjadi latar duka. Tim asuhan Andy Roxburgh harus pulang lebih awal setelah hanya meraih dua poin dari tiga pertandingan grup, kembali memperpanjang daftar kegagalan di panggung sepak bola dunia. Kekalahan dari debutan Kosta Rika dan Brasil, serta satu kemenangan atas Swedia, tak cukup membawa mereka ke babak gugur.
Skotlandia datang ke Italia dengan modal lima penampilan beruntun di Piala Dunia. Namun, langkah awal mereka langsung terhentak. Kosta Rika, yang baru pertama kali tampil, sukses mencuri kemenangan 1-0 berkat gol Juan Arnoldo Cayasso di babak kedua. Pelatih Skotlandia, Andy Roxburgh, mengakui lawan lebih siap secara taktik. "Mereka tahu segalanya tentang kami karena semua laga uji coba kami terbuka, sementara mereka berlatih di balik pintu tertutup," ujarnya. Striker Maurice Johnston gagal memanfaatkan peluang emas, terbendung kiper Luis Gabelo Conejo yang justru bertubuh jangkung—bertolak belakang dengan asumsi awal Skotlandia.
Kekalahan itu memicu kemarahan pendukung. Gelandang Stuart McCall mengenang dihujani syal Skotlandia saat meninggalkan lapangan. Tekanan semakin besar menjelang laga kedua melawan Swedia di Genoa. Namun, Skotlandia bangkit. Gol McCall dan Johnston membawa kemenangan 2-1, meski Swedia sempat memperkecil kedudukan lewat Glenn Stromberg. Kemenangan ini mengembalikan asa lolos, apalagi sistem Piala Dunia saat itu memungkinkan tim peringkat ketiga terbaik melaju.
Laga penentu melawan Brasil di Turin menjadi mimpi buruk. Skotlandia butuh setidaknya satu poin untuk menjaga peluang. Mereka tampil percaya diri, bahkan nyaris unggul lewat sundulan Roy Aitken yang dihalau Branco di garis gawang. Namun, Brasil memanfaatkan kelengahan. Tembakan pemain pengganti Muller memantul dari kiper Jim Leighton dan masuk ke gawang pada menit ke-81. Skotlandia hampir menyamakan kedudukan melalui Johnston, namun kiper Taffarel melakukan penyelamatan gemilang. "Ini cerita sial khas Skotlandia," keluh McCall.
Dengan dua poin, Skotlandia masih berharap lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Mereka menunggu 24 jam penuh kecemasan, namun hasil laga lain tidak berpihak. Tim asuhan Roxburgh harus angkat koper. Kegagalan ini menambah panjang daftar kekecewaan Skotlandia di Piala Dunia, yang terakhir kali lolos dari fase grup pada edisi 1998. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Skotlandia mengingatkan pada perjuangan timnas Indonesia yang kerap gagal di babak kualifikasi—sebuah cermin betapa tipisnya margin antara sukses dan tragedi di turnamen sebesar Piala Dunia.
Pertanyaan yang tersisa: akankah Skotlandia mampu memutus rantai kegagalan di masa depan, atau mereka akan terus menjadi "cerita sial" lain dalam sejarah Piala Dunia?



