Xenofobia di Balik Dukungan Afrika untuk Meksiko: Ketika Sepak Bola Jadi Cermin Luka Sosial
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan Afrika Selatan 0-2 dari Meksiko di Piala Dunia memicu gelombang ejekan dari warganet Afrika, yang justru mendukung lawan sebagai bentuk protes atas kekerasan xenofobia di Negeri Pelangi.
- Sentimen anti-imigran yang meningkat di Afrika Selatan, dengan angka pengangguran di atas 30%, menjadi alasan utama mengapa solidaritas antarbangsa Afrika retak di ajang sepak bola global.
- Fenomena ini mengingatkan bahwa olahraga tidak bisa dilepaskan dari politik dan isu sosial, termasuk di Indonesia yang juga menghadapi tantangan serupa dalam mengelola keragaman dan migrasi.

Kekalahan telak Afrika Selatan 0-2 dari Meksiko pada laga pembuka Piala Dunia 2026 tidak hanya menyisakan kekecewaan di lapangan, tetapi juga membuka luka lama tentang ketegangan antarbangsa di Benua Hitam. Alih-alih bersatu mendukung sesama wakil Afrika, sebagian besar warganet dari berbagai negara justru merayakan kekalahan Bafana Bafana—timnas Afrika Selatan—dengan banjir meme dan cemoohan bernada sarkastik.
Fenomena ini mengejutkan banyak pengamat, mengingat tradisi solidaritas Afrika di ajang Piala Dunia biasanya begitu kuat. Namun, kali lain, dukungan beralih ke Meksiko, tuan rumah bersama turnamen. Di balik guyonan ringan bertema sombrero, taco, dan mariachi, tersirat kemarahan yang mendalam terhadap gelombang kekerasan xenofobia yang belakangan melanda Afrika Selatan. “Kalian ingin didukung hanya karena sama-sama Afrika? Lihat dulu bagaimana kalian memperlakukan saudara sendiri,” tulis seorang pengguna X, merujuk pada laporan pengusiran dan intimidasi terhadap imigran gelap asal negara Afrika lainnya.
Sentimen ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok anti-imigran di Afrika Selatan mengultimatum warga asing ilegal untuk meninggalkan negara itu sebelum 30 Juni. Presiden Cyril Ramaphosa memang telah memperingatkan agar tidak main hakim sendiri, namun ia juga mengakui bahwa keresahan warga perlu didengar. Akibatnya, Nigeria, Ghana, Zimbabwe, dan Malawi telah melakukan repatriasi warga negaranya dari Afrika Selatan, menganggap ancaman itu serius.
Daniel Kaniki, suporter asal Kongo yang menyaksikan pertandingan di Atlanta, Amerika Serikat, dengan tegas menyatakan, “Afrika itu seperti satu keluarga. Jika ada yang mengusir anggota lain, kami bukan lagi saudara. Itu sebabnya saya mendukung Meksiko.” Namun, tidak semua setuju. Vanlare Quist, warga Ghana yang berada di lokasi yang sama, memilih mendukung Afrika Selatan. Ia menyebut sentimen anti-imigran hanya didorong oleh segelintir oknum, bukan mewakili seluruh rakyat.
Di Sudan Selatan, solidaritas justru mengalir deras untuk Bafana Bafana. George Kenyi Charles Rehan, seorang mahasiswa berusia 23 tahun, mengatakan, “Kami mendukung Afrika Selatan karena mereka mewakili Afrika. Semua negara Afrika harus bersatu di Piala Dunia.” Ikatan historis antara Sudan Selatan dan Afrika Selatan—sama-sama berjuang melawan penindasan—menjadi alasan kuat di balik dukungan itu.
Pemerintah Afrika Selatan, melalui pernyataan resmi, tetap memuji semangat juang timnas meski kalah. “Mereka telah mewakili bangsa dengan persatuan, tekad, dan kebanggaan di panggung dunia,” bunyi pernyataan tersebut. Namun, di media sosial, warganet Afrika Selatan membalas ejekan dengan nada keras. “Kami lolos ke Piala Dunia tanpa dukungan kalian. Imigran ilegal tetap akan pergi, suka atau tidak,” cuit salah satu akun. Yang lain menambahkan, “Datanglah ke Afrika Selatan secara legal.”
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa olahraga bukanlah ruang hampa. Isu migrasi dan ketegangan antarkelompok juga kerap muncul di dalam negeri, terutama menjelang perhelatan besar seperti Piala Dunia U-20 yang sempat batal. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana solidaritas regional mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi dan politik? Ataukah setiap turnamen hanya akan menjadi cermin yang memperjelas retakan sosial yang ada?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259639/original/037942700_1781508508-nil_2.jpg)

