Piala Dunia 2026: Italia Kembali Jadi Penonton, Kenangan Manis di Azteca Kian Pudar
Baca dalam 60 detik
- Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketiga kalinya berturut-turut, memicu kekecewaan mendalam di kalangan pendukung.
- Pertandingan pembuka di Estadio Azteca membangkitkan nostalgia kemenangan legendaris Italia atas Jerman Barat pada 1970, namun kini hanya menjadi pengingat pahit.
- Tanpa kehadiran Italia, Piala Dunia kehilangan salah satu daya tarik tradisionalnya, sementara Timnas Indonesia justru berpeluang tampil di edisi mendatang.

Piala Dunia 2026 resmi bergulir, namun bagi pecinta sepak bola Italia, momen ini terasa lebih getir dari biasanya. Saat Meksiko dan Afrika Selatan bertanding di laga pembuka, para pendukung Gli Azzurri hanya bisa menyaksikan dari layar kaca—sebuah kenyataan yang sudah terjadi untuk ketiga kalinya secara beruntun. Tidak ada jersey biru, tidak pula nyanyian 'Fratelli d'Italia' di tribun. Yang tersisa hanyalah kenangan manis yang kian memudar.
Estadio Azteca, venue laga perdana edisi kali ini, bukanlah tempat sembarangan bagi Italia. Di stadion yang sama, pada 1970, Italia menaklukkan Jerman Barat 4-3 dalam semifinal yang dianggap sebagai salah satu pertandingan terbaik sepanjang masa. Namun, kekalahan di final dari Brasil yang diperkuat Pelé seolah menjadi awal dari pasang surut. Kini, lima dekade kemudian, Azteca justru menjadi saksi betapa jauhnya Italia dari kejayaan.
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 menambah daftar panjang krisis sepak bola Italia. Setelah absen pada 2018 dan 2022, kali ini kegagalan terjadi meski Italia adalah juara bertahan Eropa. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) terus berbenah, namun hasil di lapangan belum juga menunjukkan perbaikan. Pelatih dan sistem pembinaan pemain muda menjadi sorotan utama.
Bagi Indonesia, absennya Italia mungkin bukan kabar buruk. Justru, peluang Timnas Indonesia untuk tampil di Piala Dunia mendatang semakin terbuka lebar. Dengan perluasan jumlah peserta menjadi 48 tim pada 2026, dan potensi tuan rumah bersama di masa depan, Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini. Namun, tanpa kehadiran tim sekelas Italia, daya tarik turnamen bagi penggemar sepak bola Tanah Air mungkin sedikit berkurang. Apalagi, banyak penggemar Indonesia yang tumbuh dengan kekaguman pada pemain-pemain legendaris Italia seperti Roberto Baggio, Paolo Maldini, atau Francesco Totti.
Pertanyaan besar kini menggantung: akankah Italia kembali ke pentas dunia pada 2030? Atau justru Indonesia yang akan lebih dulu merasakan atmosfer Piala Dunia? Yang jelas, bagi Italia, hari ini adalah hari paling menyedihkan dalam sejarah sepak bola mereka—setidaknya hingga mereka berhasil bangkit lagi.

