Inflasi Inti Jepang Stagnan di Bawah Target BOJ, Konflik Timur Tengah Jadi Ancaman Baru
Baca dalam 60 detik
- Inflasi inti Jepang diprediksi tetap 1,4% pada Mei, memperpanjang tren di bawah target 2% BOJ selama empat bulan berturut-turut.
- Berakhirnya subsidi bahan bakar pemerintah dan kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah diperkirakan akan mendorong inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
- BOJ akan menggelar pertemuan kebijakan pekan depan dengan kemungkinan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, menandai sikap hawkish baru.
Inflasi inti Jepang diperkirakan tetap bertahan di angka 1,4 persen pada Mei, sama seperti bulan sebelumnya, sekaligus menandai bulan keempat berturut-turut di bawah target 2 persen Bank of Japan (BOJ). Stagnasi ini terjadi di tengah berakhirnya subsidi bahan bakar pemerintah yang sempat menahan laju kenaikan harga energi.
Hasil jajak pendapat Reuters terhadap 16 ekonom menunjukkan bahwa indeks harga konsumen inti (CPI) nasional, yang mencakup energi namun tidak termasuk harga pangan segar, tidak berubah dari April—saat inflasi mencapai level terendah sejak Maret 2022. Keisuke Kobayashi, analis di MUFG Research & Consulting, menjelaskan bahwa meskipun laju kenaikan harga pangan (di luar segar) terus melambat, penurunan harga energi mulai menyempit akibat situasi di Iran. "Tingkat tahunan diperkirakan tidak berubah dari bulan sebelumnya," ujarnya.
Namun, para analis memperingatkan bahwa lonjakan biaya bahan bakar akibat perang di Timur Tengah berpotensi mempercepat pertumbuhan harga dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah Jepang telah mengesahkan anggaran tambahan senilai 19 miliar dolar AS untuk tahun fiskal ini guna meredam dampak kenaikan energi terhadap rumah tangga. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi impor akan kembali menguat.
Di sisi lain, BOJ dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan dua hari yang berakhir pada Selasa pekan depan. Bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1,00 persen—level tertinggi dalam 31 tahun—dan memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman. Sikap hawkish ini diambil meskipun Gubernur BOJ tidak hadir, dengan fokus utama mengatasi risiko inflasi yang dipicu perang di Timur Tengah. Keputusan ini menandai perubahan signifikan dari kebijakan moneter ultra-longgar yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Kenaikan harga grosir yang mencapai 6,3 persen pada Mei—tercepat dalam tiga tahun—menunjukkan bahwa perusahaan terus meneruskan kenaikan biaya akibat guncangan energi dari perang AS-Iran. Fenomena ini mengingatkan pada skenario stagflasi yang pernah melanda Jepang di era 1970-an, meskipun skala saat ini lebih terkendali. Bagi Indonesia, dinamika inflasi Jepang relevan mengingat Jepang merupakan mitra dagang utama dan investor signifikan di sektor manufaktur serta infrastruktur. Kenaikan suku bunga BOJ dapat mempengaruhi arus modal dan nilai tukar yen, yang berimbas pada daya saing ekspor Indonesia ke Jepang.
"Meskipun inflasi inti masih rendah, tekanan dari sisi energi dan upah mulai terlihat. BOJ tampaknya akan tetap pada jalur normalisasi, terlepas dari ketidakhadiran gubernur," ujar seorang ekonom yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah kenaikan suku bunga BOJ akan cukup untuk meredam inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi yang masih rapuh. Sementara itu, data CPI resmi akan diumumkan Kementerian Dalam Negeri Jepang pada Jumat, 19 Juni pukul 08:30 waktu setempat. Pasar akan mencermati apakah angka aktual sesuai prediksi atau justru memberikan kejutan yang bisa memicu volatilitas di pasar keuangan global.



