Piala Dunia di AS: Antusiasme Meredup di Tengah Dominasi Olahraga Lain
Baca dalam 60 detik
- Separuh warga AS mengaku tidak tertarik dengan Piala Dunia 2026, menurut jajak pendapat terbaru.
- Final NBA yang melibatkan New York Knicks menyedot perhatian publik, mengalahkan gairah terhadap turnamen sepak bola.
- Tiket termahal mencapai 1.120 dolar AS dan minimnya promosi menjadi hambatan utama membangun antusiasme.

Antusiasme masyarakat Amerika Serikat terhadap Piala Dunia 2026 yang akan mereka gelar bersama Meksiko dan Kanada masih jauh dari kata menggebu-gebu. Di tengah hiruk-pikuk final NBA yang melibatkan New York Knicks, turnamen sepak bola terbesar di planet ini nyaris tenggelam dalam bisingnya sorak-sorai basket.
Di New York, hiruk-pikuk kemenangan dramatis Knicks atas San Antonio Spurs pada Rabu malam menjadi bukti betapa sepak bola masih kalah pamor dari basket dan American football. Seorang penggemar Knicks yang ditemui BBC Sport mengaku tidak peduli dengan hal lain selain tim kesayangannya. "Sejujurnya saya tidak mengikuti perkembangan Piala Dunia sama sekali. Saya hanya peduli pada Knicks," ujarnya. Fenomena serupa terjadi di Los Angeles, di mana spanduk dan mural Lionel Messi memang terpasang, namun seorang sopir taksi bahkan tidak tahu bahwa Piala Dunia akan segera dimulai.
Padahal, Piala Dunia 1994 di AS pernah menjadi katalis pertumbuhan sepak bola Amerika, melahirkan Major League Soccer (MLS). Namun, tiga dekade kemudian, gebrakan serupa belum terasa. Larry Freedman, ketua bersama Komite Penyelenggara Los Angeles, optimistis antusiasme akan meningkat seiring berjalannya turnamen. "Kami membangun perlahan menuju puncak kegembiraan," katanya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa separuh warga AS yang disurvei mengaku tidak peduli dengan turnamen ini.
Harga tiket menjadi salah satu batu sandungan. Tiket termurah untuk laga pembuka AS mencapai 1.120 dolar AS (sekitar Rp18 juta), memicu keluhan dari keluarga yang ingin menonton langsung. Chris, seorang ayah dari empat orang di Los Angeles, mengatakan, "Kami memiliki dua anak perempuan yang bermain sepak bola klub, jadi kami penggemar berat. Sayangnya, harga tiket dan ketersediaannya adalah masalah lain." Keluarganya memilih menonton dari rumah. Hal serupa diungkapkan Brennan, yang bersama istri dan dua anaknya juga mengaku akan menyaksikan dari kediaman mereka.
Namun, ada secercah harapan dari generasi muda yang tidak mengalami Piala Dunia 1994. Mereka menunjukkan rasa ingin tahu dan kebanggaan nasional. Mahon, seorang penggemar muda, mengatakan, "Kami sudah menyiapkan pesta nonton. Kami sangat bersemangat. Kami mencoba mengajak teman-teman yang tidak terlalu suka sepak bola untuk mendukung Tim AS โ kebanggaan negara." Ia menilai popularitas sepak bola sudah melampaui bisbol, meski belum setara American football atau basket.
Dari sudut pandang Indonesia, minimnya antusiasme di AS menjadi pelajaran berharga. Indonesia sendiri tengah berupaya meningkatkan popularitas sepak bola nasional, termasuk melalui gelaran Piala Dunia U-20 yang sempat direncanakan. Faktor harga tiket dan dominasi olahraga lain juga relevan di Tanah Air, di mana bulu tangkis dan sepak bola lokal kerap bersaing dengan liga-liga Eropa. Keberhasilan AS dalam membangkitkan gairah Piala Dunia bisa menjadi tolok ukur bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mengelola turnamen besar.
Keberhasilan Tim AS di lapangan menjadi kunci utama. Semakin jauh langkah mereka, semakin besar pula dukungan yang akan mengalir. Sesi latihan terbuka yang dihadiri 30.000 peminat untuk 5.000 tiket menunjukkan potensi besar jika timnas berprestasi. Selain itu, pendekatan kreatif seperti pemain Malik Tillman yang tampil di sampul majalah mode dengan topi unik diharapkan mampu menjangkau audiens baru. Bek AS Chris Richards menertawakan foto-foto tersebut, sementara Mark McKenzie menilai itu adalah bagian dari eksposur.
Pertanyaan besarnya: bisakah Piala Dunia 2026 mengulang sukses 1994 dan mengubah lanskap sepak bola Amerika secara permanen? Ataukah turnamen ini hanya akan menjadi tontonan yang berlalu tanpa meninggalkan jejak berarti, seperti yang dikhawatirkan para penggemar sepak bola sejati?



