Skotlandia dan Kutukan Laga Perdana: Sejarah Berulang di Piala Dunia 2026?
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia akan kembali berlaga di Piala Dunia setelah 28 tahun absen, menghadapi Haiti di laga pembuka Grup H.
- Catatan historis menunjukkan Skotlandia kerap gagal memanfaatkan peluang di pertandingan pertama, seperti saat kalah dari Kosta Rika (1990) dan Peru (1978).
- Kemenangan atas Haiti menjadi krusial untuk menjaga asa lolos ke fase gugur, mengingat Brasil dan Maroko menanti di laga berikutnya.

Skotlandia akhirnya mengakhiri penantian 28 tahun untuk tampil di Piala Dunia, tetapi laga pembuka melawan Haiti pada Minggu (02:00 BST) justru membangkitkan kembali trauma masa lalu. Bagi para pendukung setia Tartan Army, menyebut nama Kosta Rika atau Peru sudah cukup membuat mereka bergidik ngeri—dua tim yang di atas kertas lebih lemah, namun sukses menghancurkan mimpi Skotlandia di edisi sebelumnya.
Sejarah mencatat, Skotlandia baru meraih kemenangan perdana di Piala Dunia pada 1974, setelah dua turnamen sebelumnya tanpa satu pun poin. Kala itu, gol Peter Lorimer dan Joe Jordan membawa mereka menang 2-0 atas Zaire—tim yang dianggap sebagai 'kuda hitam'. Namun, hasil itu justru menjadi bumerang. Dua hasil imbang melawan Brasil dan Yugoslavia membuat Skotlandia tersingkir karena selisih gol. "Seharusnya kami mencetak lebih banyak gol," sesal Jordan kemudian. "Jika pertandingan itu adalah laga kedua atau ketiga, skornya mungkin akan berbeda."
Kegagalan serupa terulang pada 1978. Manajer Ally McLeod, yang dipenuhi optimisme berlebihan, menolak tawaran perjalanan pemantauan ke Peru. Akibatnya, Skotlandia kalah 1-3 dari Peru di laga pembuka, dan meski kemudian menahan imbang Iran serta mengalahkan Belanda, mereka tetap tersingkir lebih awal. "Kami tidak melakukan riset apa pun tentang lawan," aku McLeod kemudian.
Di Piala Dunia 1982, skuad bertabur bintang besutan Jock Stein kembali gagal. Kemenangan 5-2 atas Selandia Baru di pertandingan pertama ternoda oleh dua gol yang kebobolan. Kekalahan telak 1-4 dari Brasil dan hasil imbang dengan Uni Soviet membuat Skotlandia lagi-lagi tersingkir karena selisih gol. Pola yang sama berulang pada 1986: kalah tipis dari Denmark, takluk dari Jerman Barat, dan hanya bermain imbang dengan Uruguay.
Momen paling menyakitkan terjadi pada 1990. Kosta Rika, yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia, menaklukkan Skotlandia 1-0 melalui gol Juan Cayasso. "Keesokan harinya, ada headline 'Hentikan dunia, kami ingin turun' dan semua orang menuntut saya dipecat," kenang manajer Andy Roxburgh. Skotlandia memang bangkit dengan kemenangan atas Swedia, tetapi kekalahan tipis dari Brasil memupus harapan.
Pada 1998, giliran Brasil yang menjadi mimpi buruk. Gol bunuh diri konyol Tom Boyd membuat Skotlandia kehilangan satu poin berharga setelah sempat menyamakan kedudukan lewat penalti John Collins. Hasil imbang dengan Norwegia dan kekalahan dari Maroko mengakhiri perjalanan mereka. Ironisnya, Brasil dan Marocco kembali menjadi lawan Skotlandia di grup tahun ini—sebuah déjà vu yang tidak diinginkan oleh pelatih Steve Clarke.
Bagi Indonesia, kisah Skotlandia ini memberikan pelajaran berharga. Tim nasional Indonesia, yang tengah berjuang menembus Piala Dunia, bisa belajar dari kegagalan Skotlandia dalam memanfaatkan momentum melawan tim yang dianggap lebih lemah. Mentalitas meremehkan lawan dan kurangnya persiapan taktis menjadi bumerang yang berulang. Di sisi lain, keberhasilan tim-tim seperti Kosta Rika dan Peru menunjukkan bahwa peringkat FIFA tidak selalu menjadi jaminan.
Kini, Skotlandia memiliki kesempatan untuk memutus rantai kegagalan. Haiti, yang berada di peringkat 83 dunia, bukanlah lawan yang mustahil. Namun, sejarah mengajarkan bahwa laga pembuka selalu menjadi jebakan bagi Skotlandia. Clarke harus memastikan anak asuhnya tidak mengulangi kesalahan masa lalu—terlalu percaya diri atau justru gugup berlebihan. Kemenangan atas Haiti akan menjadi modal berharga sebelum menghadapi Brasil dan Maroko, dua tim yang sudah terbukti menjadi momok.
Pertanyaannya, akankah Skotlandia mampu mengubah catatan buruk di laga perdana? Atau justru kembali menjadi korban dari kutukan yang sudah menghantui mereka selama puluhan tahun? Jawabannya akan segera terungkap di lapangan hijau.
