Pelaut Prancis Charlie Dalin Meninggal di Usia 42, Sempat Menangi Vendee Globe Sambil Jalani Perawatan Kanker
Baca dalam 60 detik
- Charlie Dalin, pemenang Vendee Globe 2024-25, tutup usia akibat kanker gastrointestinal langka yang diidapnya sejak sebelum balapan.
- Ia mencetak rekor keliling dunia non-stop dalam 64 hari, 19 jam, 22 menit, 49 detik, sembari menjalani imunoterapi.
- Kisah Dalin menyoroti ketahanan mental dan fisik atlet elite, serta pentingnya deteksi dini dan dukungan medis dalam olahraga ekstrem.

Charlie Dalin, pelaut asal Prancis yang baru saja menjuarai Vendee Globe 2024-2025, meninggal dunia pada usia 42 tahun setelah berjuang melawan kanker gastrointestinal langka. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh istrinya, Perrine Le Pape, melalui pernyataan kepada AFP pada Kamis (17/4).
Dalin mengukir sejarah dalam dunia pelayaran dengan memenangkan balapan keliling dunia non-stop yang melegenda itu dalam waktu rekor 64 hari, 19 jam, 22 menit, dan 49 detik. Ia memecahkan rekor sebelumnya milik Armel Le Cleac'h yang bertahan sejak 2017 dengan selisih lebih dari sembilan hari. Namun, di balik pencapaian gemilang tersebut, Dalin ternyata berjuang melawan penyakit mematikan yang baru diungkapkannya pada Oktober lalu melalui sebuah buku.
Dalam buku tersebut, Dalin mengungkapkan bahwa ia didiagnosis mengidap tumor beberapa hari sebelum balapan dimulai. Ia menjalani pengobatan imunoterapi sepanjang perlombaan, termasuk saat memimpin dengan keunggulan lebih dari setengah hari dari pesaing terdekatnya. "Saya menerima perawatan imunoterapi sepanjang kemenangan rekor Vendee Globe saya," tulisnya dalam buku yang menjadi saksi bisu perjuangannya.
Kemenangan Dalin di Vendee Globe edisi ke-10 pada Januari 2025 menjadi puncak kariernya setelah sebelumnya ia harus puas menjadi runner-up pada edisi 2020-2021. Saat itu, ia finis pertama namun turun ke posisi kedua karena Yannick Bestaven mendapat bonus waktu atas partisipasinya dalam penyelamatan pelaut lain. Insiden tersebut sempat menuai kontroversi, namun Dalin menerimanya dengan lapang dada.
Perjalanan Dalin tidaklah mulus. Pada akhir 2023, ia mundur dari Transat Jacques Vabre karena masalah medis yang saat itu belum diungkapkan ke publik. Baru setelah buku terbit, publik tahu bahwa ia telah berjuang melawan kanker sejak sebelum balapan dimulai. Istrinya, Perrine, dan putra mereka, Oscar, sempat menyambutnya di atas kapal setelah garis finis di Les Sables-d'Olonne, momen yang kini menjadi kenangan pahit manis.
Kisah Dalin memberikan pelajaran berharga bagi dunia olahraga, termasuk di Indonesia. Ketahanan mental dan fisik yang luar biasa, serta dukungan medis yang tepat, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ganda: kompetisi tingkat dunia dan penyakit mematikan. Di Indonesia, atlet-atlet yang berjuang melawan penyakit serius juga mulai lebih terbuka, seperti yang terlihat dalam beberapa kasus atlet bulu tangkis dan sepak bola. Namun, akses terhadap perawatan kanker yang memadai masih menjadi tantangan, terutama bagi atlet non-elite.
Kepergian Dalin meninggalkan warisan inspiratif tentang keberanian dan dedikasi. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah dunia olahraga semakin memperhatikan kesehatan mental dan fisik atlet di balik layar? Ataukah kisah seperti Dalin hanya akan menjadi pengingat sesaat?



