Pele, Maradona, atau Messi? Menakar Legenda Piala Dunia Sepanjang Masa
Baca dalam 60 detik
- Pele menjadi satu-satunya pemain yang meraih tiga gelar Piala Dunia, menempatkannya di puncak daftar legenda turnamen.
- Maradona dan Messi mewakili Argentina dalam dua era berbeda, dengan momen ikonik masing-masing yang membekas di sejarah.
- Daftar ini memicu perdebatan karena mengesampingkan nama-nama besar seperti Klose, Cruyff, dan Garrincha.

Dari ribuan pemain yang berlaga di 22 edisi Piala Dunia selama hampir satu abad, hanya segelintir yang layak disebut legenda. Sebuah daftar sepuluh besar yang disusun oleh pengamat sepak bola memicu perdebatan sengit, terutama karena beberapa nama besar justru terlempar dari posisi puncak. Pele, dengan tiga trofi di tiga dekade berbeda, tetap menjadi tolok ukur keabadian di turnamen paling bergengsi ini.
Pele, yang memenangi Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970, menjadi satu-satunya pemain yang mampu mengangkat trofi Jules Rimet sebanyak tiga kali. Debutnya pada usia 17 tahun di Swedia langsung mencengangkan dunia dengan hat-trick di semifinal melawan Prancis dan dua gol di final kontra Swedia. Meski cedera menghalanginya tampil penuh di 1962, dan perlakuan kasar di 1966 sempat membuatnya berniat pensiun dari turnamen, Pele kembali gemilang di 1970 dengan memimpin Brasil menghancurkan Italia 4-1 di final.
Di urutan kedua, Diego Maradona menjadi simbol sepak bola Argentina yang penuh drama. Edisi 1986 di Meksiko adalah puncak kejayaannya, terutama dua gol kontroversial dan brilian melawan Inggris di perempat final. Gol "Tangan Tuhan" dan dribel solo yang melegenda menjadi warisan abadi. Maradona juga membawa Argentina juara dengan lima gol dan lima assist, meski karier Piala Dunianya diwarnai skandal doping pada 1994.
Lionel Messi, yang menempati posisi keempat, akhirnya mematahkan kutukan tanpa gelar di usia 35 tahun. Setelah kekalahan mengejutkan dari Arab Saudi di laga pembuka Qatar 2022, Messi bangkit dengan tujuh gol, termasuk dua di final melawan Prancis. Ia menjadi pahlawan adu penalti yang mengantar Argentina meraih trofi pertama sejak 1986. Messi kini disejajarkan dengan Maradona dalam hati rakyat Argentina.
Ronaldo Nazรกrio, yang duduk di peringkat ketiga, adalah kisah comeback paling dramatis. Cedera lutut parah nyaris mengakhiri kariernya, namun di Piala Dunia 2002 ia kembali dengan delapan gol, termasuk dua di final melawan Jerman. Sebelumnya, ia gagal total di final 1998 akibat kejang yang misterius. Ronaldo membuktikan bahwa ketangguhan mental sama pentingnya dengan bakat.
Franz Beckenbauer, legenda Jerman Barat, menjadi pemain dan pelatih yang sukses meraih gelar. Sebagai kapten, ia memimpin timnya menaklukkan Belanda di final 1974. Sebagai pelatih, ia membalas dendam atas kekalahan 1986 dengan mengalahkan Argentina di final 1990. Beckenbauer adalah contoh langka pemain bertahan yang mendefinisikan sebuah era.
Kylian Mbappรฉ, yang masih berusia 27 tahun, sudah menempati peringkat keenam. Hat-trick di final 2022, meski kalah dari Argentina, mengukuhkannya sebagai fenomena. Jika terus konsisten, ia berpotensi menyalip Pele di masa depan. Sementara itu, Zinedine Zidane, Paolo Rossi, Cafu, dan Geoff Hurst melengkapi daftar dengan momen-momen tak terlupakan masing-masing.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini mengingatkan bahwa Piala Dunia bukan sekadar turnamen, melainkan panggung para dewa. Meskipun Indonesia belum pernah lolos, semangat dan cerita para legenda ini tetap menginspirasi generasi muda di Tanah Air. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada pemain Asia yang mampu menembus jajaran elite ini di masa depan?



