IHSG Balik Arah: Reli Terhenti di Tengah Ketegangan Global dan Inflasi AS yang Membara
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah 0,28% ke 5.886,03 setelah sempat melesat ke 6.010, dipicu aksi ambil untung dan sentimen eksternal.
- Ketegangan militer AS-Iran yang memanas dan inflasi AS yang tembus 4,2% menjadi beban utama bagi pasar keuangan Indonesia.
- Investor asing tercatat net sell Rp3,13 triliun sehari sebelumnya, menambah tekanan di tengah ketidakpastian kebijakan The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri reli dua hari beruntun pada perdagangan Kamis (11/6/2026) dengan koreksi tipis 0,28% ke level 5.886,03, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.010. Pergerakan yang volatil ini mencerminkan ketidakpastian pelaku pasar di tengah eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat dan lonjakan inflasi Amerika yang menekan prospek suku bunga global.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sebanyak 419 saham terpantau melemah, sementara 265 saham menguat dan 131 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp22,27 triliun dengan volume 33,65 miliar saham dalam 2,37 juta kali transaksi. Sektor teknologi, finansial, kesehatan, dan properti masih mampu mencatat penguatan, namun tekanan jual dominan terjadi di sektor infrastruktur, barang baku, energi, dan konsumer non-primer.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, BREN, BRPT, DSSA, dan MDKA menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Aksi ambil untung setelah penguatan signifikan dalam dua hari sebelumnya turut mendorong koreksi, ditambah dengan arus modal asing yang masih menunjukkan tren negatif. Sehari sebelumnya, investor asing membukukan net sell Rp3,13 triliun di seluruh pasar, meskipun IHSG saat itu ditutup menguat tajam.
Tekanan eksternal datang dari dua sisi. Pertama, eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan serangan tambahan terhadap target-target di Iran pada Rabu (10/6) waktu setempat, sebagai respons atas apa yang disebut sebagai agresi Iran yang terus berlanjut. Iran dilaporkan membalas dengan menargetkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz menggunakan rudal dan drone. Presiden AS Donald Trump menegaskan akan terus menghantam Iran dengan keras, meningkatkan ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Kedua, inflasi Amerika Serikat periode Mei 2026 mencatatkan lonjakan signifikan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis inflasi tahunan sebesar 4,2%, naik dari 3,8% pada April dan menjadi yang tertinggi sejak April 2023. Kenaikan ini didorong oleh melesatnya harga energi yang naik 3,9% secara bulanan atau 23,5% secara tahunan. Inflasi inti yang tidak memasukkan energi dan pangan lebih moderat di 2,9% secara tahunan, namun tetap di atas target The Fed.
Data inflasi yang panas ini mendorong pelaku pasar memperkirakan The Fed akan kembali menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17 Juni mendatang. Potensi kenaikan suku bunga baru diprediksi mundur hingga Desember 2026. Namun, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru memberikan sinyal dovish dengan menyatakan bahwa suku bunga memiliki ruang untuk turun di masa depan, didorong oleh lonjakan produktivitas dari kecerdasan buatan yang dinilai akan memberikan efek disinflasi.
Bagi investor Indonesia, kombinasi ketegangan geopolitik dan inflasi AS yang tinggi menciptakan tekanan ganda. Di satu sisi, risiko gangguan pasokan energi dapat mendorong harga komoditas dan memperburuk defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, suku bunga tinggi di AS berpotensi memperkuat dolar dan memicu arus modal keluar dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Meskipun IHSG dan rupiah sempat menunjukkan penguatan dalam beberapa hari terakhir, stabilitas ke depan masih bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah serta arah kebijakan moneter global.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah IHSG bertahan di atas level psikologis 5.800 jika tekanan eksternal terus berlanjut? Ataukah investor perlu bersiap menghadapi koreksi lebih dalam dalam waktu dekat?



