Viral Tuduhan BI Sengaja Lemahkan Rupiah, Begini Fakta Sebenarnya
Baca dalam 60 detik
- Sebuah video di Facebook mengeklaim Bank Indonesia sengaja melemahkan rupiah untuk mendorong ekspor, namun klaim itu terbukti hoaks.
- Video tersebut berasal dari kanal YouTube Astronacci yang hanya memancing diskusi, tanpa ada pernyataan resmi yang menuding BI.
- Ekonom Celios menegaskan tuduhan itu tidak beralasan karena tugas BI justru menjaga stabilitas nilai tukar, bukan melemahkannya.
Klaim bahwa Bank Indonesia sengaja melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS untuk mendorong ekspor dan menarik investor asing kembali mencuat di media sosial, tepatnya melalui unggahan video di Facebook. Namun, setelah dilakukan penelusuran fakta, narasi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan masuk dalam kategori informasi palsu atau hoaks.
Video yang menjadi sumber klaim tersebut diketahui berasal dari saluran YouTube milik Astronacci, sebuah perusahaan jasa riset dan edukasi trading. Unggahan berjudul "URGENT! Rupiah HIT 17.520! What Next dan Apa Yang Harus Kalian Persiapkan" itu tayang pada 14 Mei 2026. Dalam video tersebut, Robert selaku pemantik diskusi hanya mengajukan pertanyaan terbuka mengenai kemungkinan pelemahan rupiah yang disengaja, bukan menyampaikan pernyataan faktual. Setelah dicermati, tidak ada satu pun pernyataan dari Robert maupun Gema yang secara eksplisit menuding Bank Indonesia sengaja mendepresiasi rupiah.
Praktik reverse image search yang dilakukan terhadap potongan video juga mengonfirmasi bahwa konten tersebut tidak pernah memuat tuduhan langsung terhadap BI. Hal ini menunjukkan bahwa unggahan di Facebook telah memotong dan mengontekstualisasikan ulang isi video secara menyesatkan.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak masuk akal. Menurutnya, jika Bank Indonesia sengaja melemahkan rupiah, justru akan merugikan bank sentral itu sendiri. Sebab, salah satu mandat utama BI adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Tindakan melemahkan mata uang secara artifisial akan bertentangan dengan kebijakan moneter yang sehat dan dapat memicu gejolak ekonomi.
Bagi masyarakat Indonesia, hoaks semacam ini berpotensi menimbulkan kepanikan di pasar keuangan dan menggerus kepercayaan terhadap otoritas moneter. Di tengah tekanan nilai tukar yang sudah tinggi—rupiah sempat menyentuh level 17.520 per dolar AS—informasi yang salah dapat memicu aksi jual yang tidak perlu. Investor ritel dan pelaku usaha kecil menengah sangat rentan terhadap berita palsu yang dapat mempengaruhi keputusan investasi dan transaksi mereka.
Ke depan, publik diimbau untuk lebih kritis dalam menyaring informasi, terutama yang bersumber dari media sosial. Verifikasi silang dengan sumber resmi seperti Bank Indonesia atau portal klarifikasi hoaks sangat dianjurkan. Pertanyaan yang patut direnungkan: sejauh mana literasi digital masyarakat Indonesia mampu menangkal gelombang disinformasi ekonomi yang kian canggih?



