Dari Keraguan ke Puncak Dunia: Perjalanan Mental Linsey Smith Menuju Puncak Bowling T20
Baca dalam 60 detik
- Linsey Smith, yang kini menjadi bowler nomor satu dunia T20 putri, sempat menyembunyikan jersey debutnya karena tekanan mental yang menghantuinya saat pertama kali membela Inggris.
- Setelah kehilangan kontrak pada 2018, Smith nyaris pensiun, namun bangkit kembali melalui liga domestik dan franchise, hingga dipanggil lagi pada 2024.
- Menjelang Piala Dunia T20 di kandang, Smith menjadi andalan Inggris berkat variasi lemparan rendah yang dikembangkannya bersama pelatih spin.

Linsey Smith, pelempar bola kriket asal Inggris yang kini menduduki peringkat pertama dunia untuk format T20 putri, pernah menyembunyikan jersey debutnya di bawah tempat tidur selama bertahun-tahun. Bukan karena malu, melainkan karena kenangan pahit yang melekat pada awal karier internasionalnya.
Pada 2018, saat berusia 23 tahun, Smith menjalani debut bersama timnas Inggris. Namun, alih-alih menikmati momen tersebut, ia justru merasa tertekan. Dalam wawancara dengan BBC Sport, Smith mengaku sering berharap hujan turun agar pertandingan batal. "Saya menekan diri sendiri terlalu keras dan terus berpikir negatif ketika segala sesuatu tidak berjalan sempurna," ujarnya. Ia menggambarkan dirinya sebagai seorang perfeksionis yang tidak bisa menerima ketidaksempurnaan.
Statistik Smith pada periode pertama itu sebenarnya impresif: 13 wicket dalam sembilan T20 dengan rata-rata di bawah 15 dan ekonomi sedikit di atas satu run per bola. Namun, tekanan batin membuatnya tidak mampu melihat sisi positif. Akibatnya, kontraknya dengan Inggris dicabut. Smith sempat berpikir untuk meninggalkan kriket sama sekali. "Saat kehilangan kontrak, saya kehilangan arah. Kriket tidak lagi menyenangkan," kenangnya.
Kebangkitan Smith dimulai saat ia bergabung dengan Northern Diamonds, Hampshire, dan berkompetisi di The Hundred serta liga franchise lainnya. Ia juga bekerja sebagai pelatih komunitas di Leicestershire. Perlahan, kecintaannya pada kriket kembali. Pada 2024, setelah lima tahun absen, Smith dipanggil lagi ke timnas. Di bawah asuhan pelatih Charlotte Edwards, ia menjadi pemain inti dan kini memasuki Piala Dunia T20 di kandang sebagai bowler terbaik dunia.
Salah satu faktor kunci kebangkitan Smith adalah kemitraannya dengan Lauren Bell, rekan setim di Inggris dan Hampshire. Keduanya menjadi pasangan pembuka bola baru yang saling melengkapiโyin dan yang, tinggi dan pendek, spin dan seam, kiri dan kanan. "Lauren membuat saya banyak tertawa. Dia hebat," kata Smith. Dalam sebuah pertandingan Hampshire, Smith meminta Bell untuk mendorongnya mencoba variasi baru yang telah dilatihnya. Bell, dengan nada datar, hanya berkomentar, "Oh. Wow. Itu bola dot. Keren sekali."
Smith juga bekerja keras bersama pelatih spin Tom Smith selama musim dingin tanpa pertandingan untuk mengembangkan variasi, terutama lemparan rendah yang melambung rendah (low-arm under-spinner). Variasi ini membuatnya efektif tidak hanya di awal inning tetapi juga di akhir. "Kami bercanda bahwa saya bukan pelempar spin kiri tradisional dengan putaran dan pantulan tinggi. Kami justru memanfaatkan keunikan gaya saya," jelas Smith.
Kisah Smith menjadi cermin bagi atlet-atlet Indonesia yang kerap menghadapi tekanan mental. Di tengah gempuran prestasi, kesehatan mental sering terabaikan. Perjalanan Smith membuktikan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari transformasi. Dengan dukungan pelatih dan lingkungan yang tepat, seorang atlet bisa bangkit dan mencapai puncak dunia.
Kini, jersey debut Smith sudah tidak lagi tersembunyi di bawah tempat tidur. Meski belum dipajang di dinding, ia berjanji akan segera melakukannya. Pertanyaannya, mampukah Smith dan Inggris merebut gelar Piala Dunia T20 di kandang sendiri? Atau justru tekanan sebagai tuan rumah akan kembali menghantuinya?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4295114/original/060254000_1674043893-Persebaya_Surabaya_Bantai_Persita_Tangerang_5-0_di_Liga_1-Ichsan-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5787041/original/089219800_1778689740-nadeo_a.jpg)
