Mobilisasi 1,2 Juta Penggemar: New York Bersiap Hadapi Kemacetan Ekstrem Selama Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 yang digelar bersama AS, Kanada, dan Meksiko diprediksi memicu kemacetan parah di New York dan New Jersey, dengan otoritas setempat menetapkan hari peringatan 'gridlock alert'.
- Antrean tiket yang sulit dan harga mahal membuat banyak keluarga merasa terkucil, meski ada zona penggemar gratis sebagai alternatif.
- Bisnis lokal seperti bar dan restoran kebanjiran pesanan, namun infrastruktur transportasi masih diuji untuk menampung lonjakan pengunjung.

Lebih dari tiga dekade sejak terakhir kali menjadi tuan rumah, Amerika Serikat kembali menggelar Piala Dunia pada musim panas ini—kali ini bersama Kanada dan Meksiko—dan New York bersiap menghadapi ujian terbesar: mengelola arus 1,2 juta pengunjung yang diperkirakan memadati kawasan tersebut. Namun, euforia penggemar sepak bola mulai terusik oleh kekhawatiran akan kemacetan lalu lintas yang bisa membuat penonton terlambat masuk stadion.
Tim nasional Brasil telah memilih markas latihan di fasilitas Red Bull di Morristown, New Jersey, dan disambut antusiasme penggemar lokal. Penyerang Manchester United, Matheus Cunha, memuji fasilitas dan cuaca yang mengingatkannya pada Brasil, seraya bercanda bahwa olahraga ini seharusnya disebut 'football', bukan 'soccer'. Namun di balik kegembiraan itu, warga Brasil-Amerika Vivi de Castro mengingat pengalaman pahit saat pertandingan persahabatan Brasil vs Prancis di Boston pada Maret lalu. "Kami memiliki akses pinggir lapangan dan kami melewatkannya, sangat mengecewakan, karena lalu lintas sangat padat. Orang yang berjalan kaki lebih cepat sampai daripada bus kami," ujarnya.
Pemerintah Kota New York telah menyiapkan langkah antisipatif dengan menetapkan setiap hari pertandingan sebagai 'hari peringatan kemacetan total' (gridlock alert day) untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Lebih dari seratus petugas lalu lintas akan dikerahkan di kawasan midtown, sementara moda transportasi umum disesuaikan untuk menampung lonjakan penumpang. Di jalan tol dan terowongan New York-New Jersey, rambu-rambu peringatan sudah terpasang, mengingatkan pengemudi untuk memeriksa informasi lalu lintas terkini.
Bagi keluarga seperti Alice Baxter, yang berencana mengantar putranya Baxter Rowland—seorang kiper muda dari klub SC Gjøa Soccer—ke dua pertandingan, kekhawatiran justru muncul setelah tiket didapatkan. "Saya pikir akan sedikit menegangkan, terutama untuk beberapa pertandingan pertama. Semoga mereka bisa memperbaiki masalah, khususnya untuk final di New Jersey dan New York," katanya. Sementara itu, Dennis Wyrwoll, yang akan membawa putranya Nicholas ke empat pertandingan, membandingkan dengan pengalamannya pada Piala Dunia 1994. "Dulu tidak ada yang tahu tentang sepak bola, tiket mudah didapat. Sekarang antusiasme sangat tinggi di New York, tapi saya penasaran bagaimana di luar kota besar," ujarnya.
Di sisi lain, bisnis lokal seperti Legends Bar yang terletak di seberang Empire State Building kebanjiran pesanan. Pemiliknya, Enda Keenan, bahkan menolak tawaran kerja sama dari FIFA karena yakin tempatnya tidak akan mampu menampung lebih banyak pengunjung. "Anak saya Evan bertemu dengan pejabat FIFA New York-New Jersey. Seorang wanita datang menawarkan bantuan, tapi saya bilang kami tidak bisa membantu diri kami sendiri—ini akan sangat gila," katanya. Pada final Liga Champions, Legends Bar dipenuhi 1.300 orang di dalam dan 700 di luar, dengan pelanggan dialihkan ke lima bar lain. Keenan memperkirakan Piala Dunia akan berada di "level yang sama sekali berbeda".
Namun, akses tiket masih menjadi masalah. Shantay Armstrong, ibu dari pemain berusia tujuh tahun, mencoba mengikuti undian tiket murah yang disediakan pemerintah kota, tetapi situs web menutup pendaftaran dalam hitungan menit. "Hampir memilukan bahwa ada kurangnya akses bagi mereka yang tidak mampu. Saya ingin memberinya kesempatan itu, tetapi kurangnya kesempatan membuat saya merasa terkunci," keluhnya. Sebagai solusi, otoritas setempat menyediakan zona penggemar gratis bagi mereka yang tidak memiliki tiket.
Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan ekosistem sepak bola dan berencana menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, persiapan logistik seperti ini bisa menjadi pelajaran berharga. Pengelolaan lalu lintas, distribusi tiket yang adil, dan pemberdayaan bisnis lokal adalah tantangan yang juga akan dihadapi jika Indonesia ingin sukses menyelenggarakan event global serupa. Pertanyaan besarnya: mampukah Amerika Serikat membuktikan diri sebagai tuan rumah yang andal, atau justru kemacetan dan keterbatasan akses akan menjadi kenangan pahit bagi para penggemar?



