Roma Gaet Tony D'Amico, Arsitek Sukses Atalanta di Pasar Transfer
Baca dalam 60 detik
- Tony D'Amico resmi ditunjuk sebagai direktur olahraga baru AS Roma mulai 1 Juli, menggantikan Frederic Massara.
- Selama di Atalanta, D'Amico mendatangkan tiga pemain yang kemudian dijual dengan keuntungan besar: Hojlund, Lookman, dan Ederson.
- Roma berharap keahlian D'Amico dalam merekrut pemain muda potensial bisa memperkuat skuad dan meningkatkan nilai jual klub.

AS Roma resmi menunjuk Tony D'Amico sebagai direktur olahraga baru klub, menggantikan Frederic Massara yang hengkang setelah hanya satu musim menjabat. D'Amico akan memulai tugasnya pada 1 Juli mendatang, sementara Maurizio Lombardo tetap menjabat sebagai direktur olahraga interim dalam beberapa pekan ke depan.
Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan resmi klub pada akhir pekan lalu. D'Amico datang dengan reputasi mentereng setelah empat musim sukses bersama Atalanta, di mana ia berperan penting dalam membangun skuad yang kompetitif di Serie A dan Eropa. Kehadirannya diharapkan mampu membawa angin segar bagi strategi transfer Roma yang selama ini kerap dikritik.
Selama berkarier di Atalanta, D'Amico menunjukkan kejelian dalam merekrut pemain muda berbakat dengan harga murah, lalu menjualnya dengan keuntungan besar. Pada musim panas pertamanya di Bergamo, ia mendatangkan Rasmus Hojlund dari Sturm Graz seharga sekitar β¬17 juta. Hojlund kemudian dijual ke Manchester United dengan nilai β¬80 juta pada 2023, menjadi rekor penjualan termahal Atalanta. Ademola Lookman yang diboyong dari RB Leipzig hanya β¬9 juta, dilego ke Atletico Madrid pada pertengahan musim 2025-26 seharga β¬35 juta. Sementara itu, Ederson yang direkrut dari Salernitana dengan paket β¬21 juta, dikabarkan akan bergabung dengan Manchester United senilai β¬45 juta.
Bagi Roma, kehadiran D'Amico menjadi sinyal perubahan pendekatan dalam manajemen skuad. Klub ibu kota Italia itu selama ini kerap gagal dalam perburuan pemain bintang dan justru terjebak kontrak mahal. Dengan pengalaman D'Amico di Atalanta β klub yang terkenal dengan model bisnis berbasis pengembangan pemain β Roma berpotensi mengadopsi strategi serupa. Langkah ini juga relevan dengan regulasi Financial Fair Play yang semakin ketat.
Dalam konteks sepak bola Indonesia, kisah D'Amico bisa menjadi pelajaran berharga. Klub-klub Liga 1 sering kali mengandalkan pemain asing senior dengan biaya tinggi, tanpa mempertimbangkan nilai jual kembali. Model Atalanta yang sukses merekrut pemain muda potensial dari pasar Eropa Timur atau Afrika, lalu mengembangkannya menjadi aset bernilai, bisa menjadi inspirasi. Direktur teknik klub Indonesia seperti PSS Sleman atau Persija Jakarta mungkin perlu melirik pendekatan serupa untuk membangun tim yang berkelanjutan.
D'Amico sendiri mengaku antusias dengan tantangan baru di Roma. Dalam pernyataan resmi klub, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada manajemen Atalanta dan berharap bisa membawa kesuksesan serupa di Stadio Olimpico. Pertanyaan besarnya kini: mampukah ia mengulang kesuksesan di klub yang lebih besar dengan tekanan tinggi? Atau justru akan tergerus oleh dinamika politik klub yang kompleks? Waktu yang akan menjawab.



