ECB Pangkas Suku Bunga 25 bps, Target Inflasi 3% pada 2026
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin untuk pertama kalinya sejak 2023, merespons lonjakan inflasi akibat konflik Iran dan gangguan pasokan minyak.
- Proyeksi ekonomi direvisi: inflasi diperkirakan rata-rata 3% pada 2026 dan 2,3% pada 2027, sementara pertumbuhan PDB dipangkas menjadi 0,8% dan 1,2%.
- Langkah ECB menjadi sinyal bagi bank sentral global; Bank of Japan diperkirakan menyusul, sementara The Fed dan Bank of England masih wait and see.

Bank Sentral Eropa (ECB) akhirnya mengambil langkah agresif dengan menaikkan tiga suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juni 2026, menandai kenaikan pertama sejak 2023. Keputusan ini diambil di tengah tekanan inflasi yang kembali memanas, dipicu oleh eskalasi konflik Iran dan gangguan rantai pasok minyak melalui Selat Hormuz.
Langkah ECB ini menjadi yang pertama di antara bank sentral utama dunia dalam merespons gelombang inflasi terbaru. Gubernur ECB, Christine Lagarde, dalam konferensi pers menegaskan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target jangka menengah 2%. โKetidakpastian geopolitik saat ini memperkuat risiko kenaikan harga, dan kami siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan,โ ujarnya.
Keputusan ini mendapat dukungan luas di dalam Dewan Gubernur, meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai dampak jangka panjang dari kenaikan suku bunga terhadap pertumbuhan ekonomi. ECB kini menjadi tolok ukur bagi bank sentral lain: Bank of Japan diperkirakan akan mengikuti langkah serupa dalam waktu dekat, sementara Federal Reserve AS dan Bank of Inggris cenderung menahan diri hingga akhir tahun.
Revisi proyeksi makroekonomi yang dirilis bersamaan dengan keputusan suku bunga menunjukkan gambaran suram. Inflasi headline diperkirakan rata-rata 3,0% pada 2026 dan 2,3% pada 2027, sementara inflasi inti diproyeksikan stagnan di 2,5% untuk kedua tahun tersebut. Di sisi pertumbuhan, ECB memangkas perkiraan PDB menjadi 0,8% untuk 2026 dan 1,2% untuk 2027, mencerminkan dampak berkepanjangan dari krisis energi.
Bagi Indonesia, keputusan ECB memiliki implikasi tidak langsung. Kenaikan suku bunga di Eropa berpotensi memperkuat euro terhadap dolar AS, yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing. Selain itu, perlambatan ekonomi Eropa berisiko menekan permintaan ekspor Indonesia, terutama komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, menilai bahwa Bank Indonesia perlu mewaspadai dampak rambatan dari kebijakan moneter ketat di negara maju. โJika ECB terus menaikkan suku bunga, tekanan pada rupiah bisa meningkat, dan BI mungkin harus menyesuaikan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas,โ katanya.
Ke depan, ECB menekankan bahwa prospek ekonomi masih sangat tidak pasti, dengan risiko inflasi yang cenderung naik dan risiko pertumbuhan yang cenderung turun. Intensitas dan durasi guncangan energi akibat konflik Iran akan menjadi faktor penentu. Meskipun Dewan Gubernur yakin dapat menghadapi tantangan ini, mereka menegaskan tidak terikat pada jalur suku bunga tertentu ke depan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah ECB mempertahankan sikap hawkish-nya jika pertumbuhan terus melambat, atau justru akan mengalah pada tekanan resesi?



