BI: Rp19 Triliun Modal Asing Masuk dalam Dua Hari, Rupiah Menguat
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mencatat lonjakan aliran modal asing sebesar Rp19,02 triliun hanya dalam dua hari pada awal pekan ini, didorong oleh kebijakan moneter agresif.
- Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin dalam sebulan terakhir, ditambah insentif bagi investor asing, menjadi katalis utama masuknya dana global ke instrumen SRBI dan SBN.
- Penguatan rupiah ke level Rp17.865 per dolar AS menunjukkan kepercayaan pasar terhadap bauran kebijakan BI, sekaligus menjauhkan tekanan dari level psikologis Rp18.000.

Bank Indonesia (BI) melaporkan aliran modal asing yang deras masuk ke pasar keuangan domestik dalam dua hari terakhir, mencapai total Rp19,02 triliun, seiring dengan efektivitas bauran kebijakan moneter yang diperkuat. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan bahwa arus masuk ini terjadi pada 10 dan 11 Juni 2026, dengan rincian Rp15,11 triliun dari transaksi SRBI nonresiden dan Rp3,91 triliun dari Surat Berharga Negara (SBN).
Masuknya dana asing ini tidak lepas dari langkah agresif BI yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dalam sebulan terakhir, ditambah dengan penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, serta perluasan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan. BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing untuk menjaga stabilitas.
Menurut Destry, respons positif pasar terhadap kebijakan ini tercermin dari peningkatan minat investor global terhadap instrumen keuangan domestik. "Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik," ujarnya dalam pernyataan resmi, Jumat (12/8/2026).
Dampak langsung dari aliran modal ini adalah penguatan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Refinitif, rupiah ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp17.865 per dolar AS, menjauhi level psikologis Rp18.000 dan mendekati area Rp17.800. Pergerakan ini menunjukkan bahwa kebijakan BI mampu meredam tekanan eksternal, terutama dari kenaikan suku bunga global.
Bagi investor dan pelaku pasar di Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal positif bahwa kebijakan moneter yang kredibel mampu menarik modal asing meskipun ketidakpastian global masih tinggi. Namun, analis mengingatkan bahwa ketergantungan pada aliran portofolio jangka pendek tetap berisiko jika terjadi perubahan sentimen global secara tiba-tiba.
Ke depan, BI perlu terus memantau dinamika eksternal, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS, untuk menjaga stabilitas rupiah. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah aliran modal ini dapat bertahan dalam jangka panjang, atau hanya bersifat sementara akibat respons terhadap kenaikan suku bunga yang agresif.



