Nippon Steel Gelontorkan Rp40 Triliun untuk Pabrik US Steel di Pennsylvania
Baca dalam 60 detik
- Nippon Steel mengalokasikan hingga US$2,5 miliar untuk modernisasi pabrik Mon Valley Works di Pennsylvania, melampaui komitmen awal US$1 miliar.
- Investasi ini mencakup pembangunan pabrik baja baru di Braddock dan penggantian pabrik canai panas tua, yang akan meningkatkan kapasitas produksi baja otomotif.
- Langkah ini merupakan bagian dari kesepakatan akuisisi US Steel yang disetujui Presiden AS Donald Trump setelah Nippon Steel memberikan 'saham emas' kepada pemerintah AS.

Nippon Steel Corp. berencana mengucurkan investasi hingga US$2,5 miliar atau setara Rp40 triliun untuk merevitalisasi pabrik-pabrik United States Steel Corp. di Pennsylvania, Amerika Serikat, dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Rencana ini terungkap dalam dokumen analisis dampak ekonomi yang dirilis anak usaha Nippon Steel di AS pada Senin (9/6).
Investasi yang difokuskan pada kawasan Mon Valley Works di Pittsburgh ini jauh melampaui komitmen awal sebesar US$1 miliar yang dijanjikan Nippon Steel sebelum mengakuisisi US Steel sepenuhnya pada Juni tahun lalu. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa raksasa baja Jepang itu serius membangkitkan kembali pabrik baja AS yang sempat terpuruk.
Menurut dokumen yang dirilis, dana investasi akan dialokasikan terutama untuk pabrik Edgar Thomson di Braddock, serta mengganti pabrik canai panas (hot strip mill) yang sudah uzur di pabrik Irvin. Pabrik canai panas tersebut dijadwalkan pensiun dan akan digantikan fasilitas baru yang lebih modern. US Steel menyatakan, penggantian ini akan membuat Mon Valley Works mampu memproduksi baja bernilai tinggi, seperti baja untuk industri otomotif.
Keputusan Nippon Steel menggelontorkan dana besar ini tak lepas dari dinamika politik di AS. Presiden Donald Trump awalnya menentang akuisisi US Steel oleh Nippon Steel dengan alasan keamanan nasional. Namun, setelah kembali menjabat pada Januari 2025, Trump berubah sikap dan menyetujui akuisisi tersebut. Syaratnya, Nippon Steel harus berkomitmen melakukan investasi besar-besaran dan memberikan 'saham emas' (golden share) kepada pemerintah AS, yang memberi hak veto atas keputusan manajemen strategis.
Bagi Indonesia, langkah Nippon Steel ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana investasi asing di sektor strategis dapat berjalan jika ada kepastian regulasi dan negosiasi yang matang. Di tengah upaya pemerintah Indonesia menarik investasi di sektor hilirisasi mineral dan baja, skema 'saham emas' yang diterapkan AS bisa menjadi model untuk melindungi kepentingan nasional tanpa menghalangi masuknya modal asing. Selain itu, investasi ini berpotensi mempengaruhi rantai pasok baja global, termasuk pasokan baja otomotif yang selama ini sebagian besar dipasok oleh produsen Asia Timur.
Ke depan, keberhasilan Nippon Steel dalam merevitalisasi US Steel akan menjadi ujian apakah model investasi dengan pengawasan ketat pemerintah bisa menciptakan sinergi antara kepentingan bisnis dan keamanan nasional. Pertanyaan yang muncul: akankah strategi serupa diadopsi oleh negara lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola investasi asing di sektor sumber daya alam?



