Pat Nevin: Kunci Nikmati Piala Dunia Tanpa Stres, dari Pemain hingga Suporter
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 akan memuat 104 pertandingan; pendekatan maraton diperlukan agar tidak kelelahan sejak awal.
- Pemain disarankan menjauhi media sosial selama turnamen untuk menjaga kesehatan mental dan fokus pada tim.
- VAR tahun ini diperluas ke kartu kuning kedua dan tendangan sudut, namun simulasi pemain masih luput dari sanksi tegas.

Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, mantan pemain timnas Skotlandia Pat Nevin membagikan panduan unik untuk menikmati turnamen tanpa tekanan berlebih. Dalam kolomnya di BBC Football Extra, Nevin yang akan menghadiri Piala Dunia ketujuhnya menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara antusiasme dan ketenangan, terutama bagi para pemain yang menjadi pusat perhatian global.
Nevin mengingatkan bahwa Piala Dunia bukanlah sprint, melainkan maraton yang terdiri dari 104 pertandingan. Ia menyarankan suporter untuk tidak terlalu stres sejak awal, kecuali tim kesayangan mereka bertanding. “Mulailah dengan santai, nikmati sebanyak mungkin, dan jangan terlalu terbebani terlalu cepat,” tulisnya. Namun, ia sendiri mengaku akan melanggar nasihatnya saat Skotlandia menghadapi Haiti di laga pembuka grup yang sarat tekanan—kekalahan berarti eliminasi dini. Grup Skotlandia juga dihuni Brasil, favorit juara, dan Maroko, semifinalis Qatar 2022.
Bagi para pemain, Nevin memberikan satu rekomendasi radikal: hapus atau nonaktifkan media sosial selama turnamen. Menurutnya, risiko mental akibat hujatan daring saat performa buruk terlalu besar. “Jika sesuatu berjalan salah, pemain bisa hancur secara mental oleh abuse. Tidak sepadan mengambil risiko itu,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa terpaku pada ponsel menghambat ikatan tim, yang merupakan fondasi kesuksesan seperti yang ditunjukkan Inggris baru-baru ini. Pemain bisa menyerahkan pengelolaan konten kepada tim media, tetapi tidak perlu membacanya.
Nevin juga menyoroti tekanan yang dihadapi pelatih. Dengan persiapan empat tahun yang tiba-tiba memadat dalam sebulan, para manajer harus mengambil keputusan cepat di bawah sorotan media. Ia memaklumi jika pelatih tampak singkat atau kasar dalam konferensi pers—99 persen reaksi publik akan tetap pada hasil pertandingan, bukan penampilan mereka di ruang wawancara. “Mereka stres dan tertekan, dan sebenarnya tidak ingin melakukan banyak wawancara,” katanya.
Di sisi teknis, Nevin mengapresiasi peran VAR yang membantu wasit menghindari kesalahan fatal, namun mengkritik FIFA karena masih mengabaikan satu masalah besar: simulasi pemain. Aturan baru tahun ini memperluas wewenang VAR ke kartu kuning kedua, kesalahan identitas, dan tendangan sudut, tetapi Nevin berharap suatu hari teknologi digunakan untuk menghukum pemain yang pura-pura cedera. “Wasit yang berani memberi kartu untuk simulasi akan menjadi pahlawan sejati bagi penggemar sportivitas,” ujarnya. Ia mendorong satu wasit untuk memulai revolusi itu.
Bagi pembaca di Indonesia, Piala Dunia 2026 akan menjadi tontonan global yang memengaruhi jadwal siaran, industri fesyen jersey, hingga diskusi di media sosial. Saran Nevin untuk tidak terjebak FOMO (fear of missing out) dan menikmati turnamen secara bertahap relevan di tengah euforia yang kerap melanda. Pertanyaannya, akankah FIFA akhirnya mendengarkan seruan untuk memberantas simulasi, atau justru pemain dan suporter yang harus lebih bijak mengelola ekspektasi?
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4856076/original/053764900_1717732559-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak_38__19_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5570827/original/007184500_1777544067-javlon.jpg)
