Di Bawah Kendali Keluarga Fangiono, ANJT Menderita Rugi Bersih US$59,2 Juta
Baca dalam 60 detik
- PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) membukukan rugi bersih US$59,2 juta pada 2025, berbalik dari laba US$3,7 juta setahun sebelumnya.
- Beban divestasi entitas anak sebesar US$72,1 juta dan rugi operasi dihentikan US$19,5 juta menjadi pemicu utama kerugian.
- Akuisisi 91,17% saham oleh First Resources milik keluarga Fangiono pada Mei 2025 belum mampu memperbaiki kinerja keuangan emiten sawit ini.

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$59,2 juta sepanjang tahun 2025, berbalik tajam dari laba US$3,7 juta pada 2024. Kerugian ini terjadi di tengah perubahan pengendali perseroan yang baru rampung pada Mei 2025, ketika 91,17% saham beralih dari keluarga Tahija ke First Resources Limited milik keluarga Fangiono.
Meski pendapatan naik tipis 3% menjadi US$236,6 juta dari US$229,7 juta, kenaikan laba bruto dari US$57,8 juta menjadi US$83,5 juta belum cukup menutup beban luar biasa. Faktor utama penekan laba adalah rugi divestasi entitas anak sebesar US$72,1 juta dan rugi dari operasi yang dihentikan senilai US$19,5 juta. Akibatnya, meskipun laba usaha meningkat menjadi US$49,6 juta dari US$29,5 juta, bottom line tetap jebol.
Dari sisi pendapatan, terjadi pergeseran signifikan. Pendapatan dari pihak ketiga merosot drastis dari US$229,66 juta menjadi hanya US$100,81 juta. Sebaliknya, pendapatan dari pihak berelasi melonjak menjadi US$135,98 juta, yang sebelumnya tidak tercatat dalam laporan 2024. Hal ini mengindikasikan perubahan struktur bisnis pasca-akuisisi, di mana transaksi antarperusahaan dalam grup First Resources mulai mendominasi.
Di sisi neraca, total aset ANJT per 31 Desember 2025 tercatat US$316,6 juta, menyusut 32,6% dibandingkan akhir 2024 yang sebesar US$469,8 juta. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya liabilitas dari US$181,5 juta menjadi US$90,2 juta, sementara ekuitas turun menjadi US$226,4 juta. Struktur modal yang lebih ramping ini bisa menjadi sinyal restrukturisasi pasca-akuisisi.
Bagi investor di Indonesia, kinerja ANJT menjadi cerminan tantangan integrasi pasca-pengambilalihan. Keluarga Fangiono, yang juga menguasai First Resources, memiliki reputasi dalam efisiensi operasional di sektor sawit. Namun, beban divestasi dan penghentian operasi menunjukkan bahwa proses konsolidasi belum tuntas. Ke depan, publik akan mencermati apakah ANJT mampu membalikkan rugi menjadi laba pada 2026, terutama dengan potensi sinergi dari grup First Resources.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah rugi besar ini hanya biaya sementara dari transisi kepemilikan, atau pertanda fundamental bisnis ANJT yang melemah? Jawabannya akan terlihat dari kemampuan manajemen baru dalam menekan beban non-operasional dan memaksimalkan pendapatan dari pihak berelasi.



