Rivellino Kenang Final 1970: Dukungan Meksiko dan 'Laga Termudah' Brasil
Baca dalam 60 detik
- Legenda Brasil Roberto Rivellino menyebut final Piala Dunia 1970 melawan Italia sebagai pertandingan termudah yang pernah dimainkan timnya.
- Dukungan publik Meksiko setelah tuan rumah tersingkir menjadi motivasi tambahan bagi Brasil untuk tampil gemilang dan merebut gelar ketiga.
- Rivellino akan kembali ke Estadio Azteca pada 2026 untuk menyaksikan pembukaan Piala Dunia, 56 tahun setelah momen bersejarah tersebut.
Legenda sepak bola Brasil, Roberto Rivellino, mengungkapkan kenangan tak terlupakan tentang final Piala Dunia 1970 yang berlangsung di Estadio Azteca, Meksiko. Dalam wawancara dengan FIFA, pria berusia 79 tahun itu menyebut pertandingan melawan Italia justru menjadi laga termudah sepanjang turnamen bagi tim Samba, meskipun lawan saat itu dianggap sebagai salah satu kekuatan Eropa.
Rivellino, yang dijuluki 'Patada Atomica' karena tendangan kirinya yang dahsyat, menceritakan bagaimana atmosfer di Meksiko membentuk perjalanan Brasil menuju gelar juara dunia ketiga. Tim asuhan Mario Zagallo menghabiskan seluruh turnamen di Guadalajara sebelum final, dan dukungan luar biasa dari publik Meksiko—terutama setelah tuan rumah tersingkir di perempat final—menjadi energi tambahan bagi para pemain. “Mereka benar-benar mendukung kami. Itu menjadi tontonan yang luar biasa,” kenang Rivellino.
Brasil menyapu bersih enam pertandingan dengan kemenangan, diperkuat oleh aksi gemilang Pele, Tostao, Gerson, Jairzinho, dan Rivellino sendiri. Menurut Rivellino, tim tersebut terus meningkat dari laga ke laga. “Bahkan jika ada dua atau tiga pertandingan lagi, saya rasa tidak ada yang bisa mengalahkan tim itu. Kami memiliki Raja Pele di sisi kami,” ujarnya.
Final melawan Italia berlangsung sengit di babak pertama dengan skor 1-1 melalui gol Pele dan Roberto Boninsegna. Namun, di babak kedua, Brasil tampil dominan. Gerson, Jairzinho, dan Carlos Alberto mencetak gol untuk mengunci kemenangan 4-1. Rivellino mengaku bahwa final tersebut justru terasa paling tenang. “Saya merasa kami bisa mencetak lima gol. Bahkan ada momen ketika saya akan mencetak gol dan bek lawan menjatuhkan saya, tapi wasit tidak memberikan penalti karena skor sudah 4-1,” katanya.
Setelah peluit panjang berbunyi, suporter Meksiko yang antusias menerobos pagar keamanan dan membanjiri lapangan. Mereka mengenakan sombrero khas Meksiko di kepala Pele, sementara Tostao hampir kehilangan seragamnya. “Itu kegilaan—kegilaan total! Hal-hal seperti itu tidak terjadi sekarang, tapi saat itu orang-orang bebas masuk lapangan,” kenang Rivellino sambil tersenyum.
Kisah Rivellino ini menjadi pengingat akan kejayaan sepak bola Brasil yang identik dengan kreativitas dan kegembiraan. Bagi penggemar di Indonesia, momen tersebut juga relevan mengingat antusiasme tinggi terhadap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dukungan publik tuan rumah terhadap tim lain bisa menjadi faktor X, seperti yang dialami Brasil pada 1970. Rivellino sendiri dijadwalkan menghadiri pertandingan pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan pada 11 Juni 2026 di Mexico City Stadium.
Meski telah beberapa kali kembali ke Meksiko untuk menerima penghargaan, Rivellino mengaku belum pernah menginjakkan kaki di Estadio Azteca sejak final 1970. Ia dijadwalkan akan kembali ke stadion yang mengabadikan generasinya tersebut. “Ini akan menjadi momen yang indah. Setelah hampir 56 tahun, saya tidak sabar untuk menginjakkan kaki di sana lagi,” tutupnya. Pertanyaannya, akankah semangat dan dukungan publik Meksiko kembali menjadi berkah bagi tim lain di Piala Dunia mendatang?



