IHSG Terjun Bebas 3,5% di Pembukaan, Ketegangan Iran-Israel dan Tekanan Rupiah Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 3,57% ke 5.395 pada Senin (8/6/2026), dengan 497 saham merah dan nilai transaksi Rp885,8 miliar.
- Eskalasi konflik Iran-Israel setelah serangan rudal Minggu (7/6) memicu aksi jual aset berisiko, memperkuat dolar AS dan menekan rupiah ke Rp18.000/US$.
- Defisit APBN Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun (0,70% PDB), naik tipis dari bulan sebelumnya, namun Menkeu menyebut fiskal tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka ambles 3,57% pada Senin (8/6/2026) ke level 5.395,07—terendah dalam beberapa bulan terakhir—seiring tekanan jual yang meluas setelah ketegangan geopolitik Timur Tengah kembali memanas dan nilai tukar rupiah terus merosot.
Data perdagangan pagi ini menunjukkan 497 saham terkoreksi, sementara hanya 73 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Volume transaksi mencapai 1,05 miliar saham dengan frekuensi 101 ribu kali, mencerminkan kepanikan yang merata di hampir seluruh sektor. Investor asing dan domestik kompak melepas portofolio saham di tengah ketidakpastian yang kian pekat.
Pemicu utama aksi jual kali ini adalah serangan rudal Iran ke Israel pada Minggu (7/6/2026), yang merupakan pelanggaran pertama terhadap gencatan senjata yang disepakati pada April lalu. Ketua Parlemen Iran, Mohammed Baqer Ghalibaf, menyebut blokade laut AS dan serangan Israel di Lebanon sebagai pelanggaran, sehingga pangkalan AS dan aset Israel dianggap sebagai target sah. Presiden AS Donald Trump mengecam langkah Teheran dan dilaporkan akan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas, demi menjaga sisa-sisa proses negosiasi yang rapuh.
Dampak langsung dari ketegangan ini sudah terasa di pasar valuta asing. Indeks dolar AS melesat ke level 100,069—tertinggi sejak akhir Maret 2026—memicu arus modal keluar (outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah pun terperosok ke Rp18.000 per dolar AS dalam sepekan terakhir, level yang belum pernah terlihat sejak krisis 1998. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi geopolitik yang mendorong harga minyak tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global, dan memperbesar kebutuhan dolar untuk repatriasi dividen serta pembayaran utang luar negeri.
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTA Jumat lalu (5/6) melaporkan defisit anggaran hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70% dari PDB. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi April yang sebesar Rp164,4 triliun (0,64% PDB). Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa realisasi APBN tetap positif dan defisit masih terjaga sesuai desain awal. "Realisasi APBN sampai Mei 2026 terus menunjukkan positif," ujarnya. Namun, investor tetap mencermati kenaikan belanja energi akibat perang yang bisa membengkakkan subsidi dan memperlebar defisit ke depan.
Bagi investor Indonesia, kombinasi pelemahan rupiah, outflow asing, dan ketidakpastian geopolitik menjadi sinyal untuk wait and see. Pasar obligasi juga tertekan, sementara harga komoditas energi yang tinggi memberi tekanan tambahan pada neraca perdagangan. Pertanyaan besarnya: akankah pemerintah dan Bank Indonesia mampu menahan gejolak ini tanpa harus menaikkan suku bunga secara agresif? Atau justru eskalasi konflik Iran-Israel akan memaksa otoritas moneter mengambil langkah darurat?



