Xi Jinping ke Pyongyang: Kunjungan Penuh Kalkulasi di Tengah Ketegangan Korea Utara-Rusia
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping dijadwalkan mengunjungi Korea Utara pekan ini, langkah yang dinilai lebih sebagai upaya memulihkan pengaruh Beijing di tengah merapatnya Pyongyang ke Moskow.
- Hubungan China-Korea Utara yang sempat renggang akibat perbedaan prioritas, terutama soal program nuklir, kini kembali diuji oleh meningkatnya kerja sama militer Pyongyang dengan Rusia.
- Kunjungan ini berpotensi memengaruhi keseimbangan geopolitik di Asia Timur, termasuk dinamika keamanan yang juga menjadi perhatian Indonesia sebagai negara non-blok.

Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara dalam waktu dekat, sebuah langkah yang oleh para analis dibaca sebagai upaya Beijing untuk mengembalikan pengaruhnya di Pyongyang yang kini semakin akrab dengan Moskow. Kunjungan ini terjadi di tengah meredanya hubungan kedua negara yang sempat dingin, sekaligus menandai babak baru persaingan pengaruh antara China dan Rusia di Semenanjung Korea.
Hubungan Beijing dan Pyongyang, yang kerap disebut sebagai "persahabatan yang ditempa dalam darah" sejak Perang Korea, belakangan ini diuji oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah percepatan program nuklir Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, yang membuat China khawatir akan stabilitas kawasan. Namun, yang paling mendorong kunjungan Xi adalah semakin eratnya kerja sama militer antara Korea Utara dan Rusia, termasuk pakta pertahanan bersama yang ditandatangani saat Presiden Vladimir Putin mengunjungi Pyongyang tahun lalu.
Menurut sumber diplomatik Barat, China merasa resah dengan kedekatan Pyongyang-Moskow yang berpotensi mengurangi pengaruh Beijing. Apalagi, sekitar 2.300 tentara Korea Utara dilaporkan tewas saat bertempur bersama Rusia di Ukraina, sementara Pyongyang dituding memasok amunisi untuk perang tersebut. "China ingin memastikan kepentingannya terhadap Korea Utara tetap terlindungi di saat terjadi konvergensi cepat antara Moskow dan Pyongyang," ujar Ankit Panda, spesialis kebijakan nuklir dari Carnegie Endowment for International Peace.
Beijing sendiri berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, China tidak ingin kehilangan pengaruh di Pyongyang, tetapi di sisi lain, mendukung penuh program nuklir Korea Utara hanya akan memicu peningkatan kehadiran militer AS di kawasan. "Jika China mengambil sikap keras terhadap program nuklir Pyongyang, hal itu justru akan mendorong Korea Utara semakin dekat ke Rusia," kata Victor Cha, presiden departemen kebijakan luar negeri di Center for Strategic and International Studies. Sikap ambivalen ini terlihat dari keputusan China dan Rusia yang memveto resolusi sanksi PBB terhadap Korea Utara pada 2022.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi tersendiri. Sebagai negara yang aktif dalam forum Asia Timur dan ASEAN, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan. Meningkatnya rivalitas China-Rusia di Semenanjung Korea dapat menggeser fokus perhatian global, namun juga berpotensi memicu ketegangan yang merembet ke Laut China Selatan. Selain itu, Indonesia perlu mencermati apakah pendekatan China terhadap Korea Utara akan mempengaruhi kebijakan luar negerinya yang bebas aktif, terutama dalam menjaga hubungan seimbang dengan AS dan China.
Kunjungan Xi ini juga menjadi ujian bagi Kim Jong Un. Di satu sisi, ia membutuhkan dukungan China sebagai mitra dagang utama dan sumber bantuan. Namun, Kim juga ingin menjaga otonomi, termasuk dalam pengembangan senjata nuklir. "Kim menginginkan perlindungan China, tetapi tanpa kendali China," demikian pengamatan para analis. Pertanyaannya, apakah Xi bersedia memberikan ruang gerak itu, atau justru akan menekan Kim untuk kembali ke jalur yang lebih moderat?
Ke depan, hubungan Beijing-Pyongyang akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan perang di Ukraina. Jika konflik berakhir, kebutuhan Rusia terhadap Korea Utara bisa menurun, dan Kim mungkin akan kembali bergantung pada China. Namun, jika kerja sama Rusia-Korea Utara terus menguat, Beijing harus memikirkan ulang strateginya. Kunjungan Xi pekan ini bisa menjadi titik balik, atau sekadar jeda dalam persaingan pengaruh yang semakin kompleks di Asia Timur.



