LOPI Siap Akuisisi Perusahaan Logistik EV untuk Menekan Biaya BBM di Tengah Gejolak Global
Baca dalam 60 detik
- PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) berencana mengakuisisi perusahaan logistik berbasis kendaraan listrik guna mengurangi ketergantungan pada BBM yang harganya rawan melonjak akibat konflik Timur Tengah.
- Direktur Utama LOPI optimistis bisnis logistik berbasis AI dan kontrak pemerintah/BUMN tetap menjadi penopang pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
- Langkah akuisisi ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk menekan biaya energi dan meningkatkan efisiensi operasional di era transisi energi.

Direktur Utama PT Logisticsplus International Tbk (LOPI), Wahyu Dwi Jatmiko, mengungkapkan optimisme terhadap prospek bisnis infrastruktur logistik di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, di balik optimisme itu, perusahaan masih dibayangi risiko lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Untuk mengantisipasi tekanan biaya energi, LOPI berencana mengakuisisi perusahaan logistik yang mayoritas operasionalnya menggunakan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Langkah akuisisi ini menjadi bagian dari strategi ekspansi LOPI dalam menghadapi gejolak global yang dipicu ketegangan geopolitik. Menurut Wahyu, perang di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung berdampak pada biaya operasional logistik. Dengan beralih ke kendaraan listrik, perusahaan berharap dapat menekan pengeluaran energi yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar.
Hingga saat ini, LOPI masih mengandalkan pendapatan dari jasa logistik dan kontrak proyek pemerintah serta BUMN sebagai sumber pertumbuhan utama. Namun, ketergantungan pada BBM membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Akuisisi perusahaan logistik berbasis EV dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko tersebut sekaligus mendukung transisi energi di sektor logistik nasional.
Wahyu menegaskan bahwa pihaknya tetap optimistis terhadap prospek bisnis logistik di era AI. Menurutnya, adopsi teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok, mulai dari perencanaan rute hingga manajemen gudang. Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa transformasi energi melalui elektrifikasi armada menjadi prioritas untuk menjaga daya saing perusahaan di tengah tekanan biaya.
Langkah LOPI ini mencerminkan tren yang lebih luas di industri logistik Indonesia, di mana perusahaan mulai beralih ke kendaraan listrik untuk mengurangi emisi karbon dan biaya operasional. Pemerintah pun telah mendorong elektrifikasi melalui berbagai insentif, termasuk penurunan tarif listrik untuk charging station dan pembebasan bea masuk komponen EV. Meski demikian, tantangan seperti infrastruktur pengisian daya yang terbatas dan harga kendaraan listrik yang masih tinggi menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Ke depan, keberhasilan strategi akuisisi LOPI akan bergantung pada kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan armada EV ke dalam operasional yang ada serta memastikan pasokan listrik yang stabil dan terjangkau. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah langkah ini cukup untuk melindungi LOPI dari gejolak harga minyak, atau justru akan menambah beban investasi di tengah ketidakpastian global?



